Category Archives: politik

NOMOR URUT CAPRES 2009

Berita hari ini tentang pemilu presiden 2009 tentang pengundian nomor urut. Hasilnya: 1. Megawati-Prabowo
2. SBY-Budiono
3. JK-Wiranto

ini berita terkait dari detik.com sesuai nomor urut.

Sabtu, 30/05/2009 12:13 WIB

Taufiq Kiemas: Nomor 1 Tanda Kemenangan
Novi Christiastuti Adiputri – detikPemilu

Jakarta – Pasangan Megawati Soekarnoputri dan Prabowo berhasil mendapat nomor urut 1. Hal ini dinilai bisa menjadi tanda-tanda kemenangan bagi pasangan tersebut.

“Nomor 1 tanda-tanda kemenanganlah, kita senang,” kata Ketua Dewan Pembina PDIP Perjuangan Taufiq Kiemas di kediamannya, Jl Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (30/5/2009).

Suami Megawati tersebut juga mengaku, ribuan kader di tingkat daerah sudah siap mendukung pasangan Mega-Prabowo agar menjadi nomor satu. Lewat program kerakyatan yang selama ini diusung, Taufiq berharap mimpi untuk mencapai stabilitas ekonomi mampu dicapai.

“Negara kita kan Gemah Ripah Loh Jinawi,” kata Taufiq.

Ia juga kembali menyoroti sistem perekonomian yang ada saat ini. Tidak ada mimpi yang ditawarkan kepada rakyat.

“Sekarang rakyat cuman dikasih tahu harga saham berapa,” tutupnya.

( mad / anw )

========================

Sabtu, 30/05/2009 13:47 WIB

SBY: Allah Pilihkan Nomor 2
Luhur Hertanto – detikPemilu

Video Terkait
gb
Spanduk ‘Ibu Negara Berjilbab’ di Dekat Markas PKS
Foto Terkait
gb
SBY Salat Jumat di TransTV
Jakarta – Nomor urut dua dalam Pilpres 2009 bagi pasangan SBY-Boediono adalah
berkah. Tanda jadi angka 2 dapat dimaknai sebagai simbol victory yang berarti kemenangan.

“Alhamdulillah mendapat nomor dua, banyak pemaknaannya. Bisa berarti
victory, perjuangan menuju kemenangan dan melanjutkan yang telah kita
lakukan,” kata SBY sambil mengangkat lambang simbol jari angka dua.

Hal ini disampaikan dia dalam Silatnas Parpol Koalisi SBY-Boediono di Arena PRJ, Kemayoran, Jakarta, Sabtu (30/5/2009).

Menurut dia, mendapatkan nomor urut dua yang punya makna positif itu
merupakan berkah dari Allah SWT. Sebab, SBY mengaku pasrah sejak dari awal berapa pun nomor urut yang akan didapat dalam undian di KPU.

“Kita tidak memilih karena mendapat giliran ketiga. Yang giliran pertama dan dua memilih, kita tinggal buka saja. Allah SWT yang memilihkan,” ujar SBY.

Namun di satu sisi, tanda jari simbol angka dua juga membawa tanggung
jawab. Bahwa segala kegiatan dan materi kampanye SBY-Boediono harus
disampaikan dengan cara-cara yang mengedepankan kecerdasan, tidak
melakukan agitasi dan kampanye negatif, menyerang kontestan lain secara personal dan berlangsung damai.

“Sehingga kita bisa menang secara terhormat dan mulia adanya. Bila kita menang terhormat dan mulia, Insya Allah rakyat ikhlas menerima kita dan berpartisipasi membangun bangsa,” kata SBY.
( lh / aan )

============================

Sabtu, 30/05/2009 10:48 WIB
JK-Wiranto Nomor 3
Priyo: 1 Masa Lalu, 2 Presiden Sekarang, 3 Presiden Mendatang
Elvan Dany Sutrisno – detikPemilu

Jakarta – Memperoleh nomor urut 3 bagi pasangan Jusuf Kalla (JK)-Wiranto bukanlah sebuah bencana. Secara filosfis, pasangan tersebut merasa lebih diuntungkan.

“1 itu masa lalu, 2 itu presiden sekarang, 3 itu presiden yang akan datang,” ujar Ketua DPP Golkar Priyo Budi Santoso di Gedung KPU, Jl Imam Bonjol, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (30/5/2009).

Menurut Priyo, jargon itu akan digunakan untuk ‘jualan’ kampanye pasangan tersebut nantinya. Dengan nomor 3, pendukung JK-Wiranto siap bekerja keras untuk memperoleh kemenangan.

“Kami bergembira semakin banyak relawan yang mendukung JK-Win,” tutupnya.

Sebelumnya, JK-Wiranto pada pengundian nomor urut capres-cawapres di KPU memperoleh nomor 3. Sedangkan pasangan SBY-Boediono mendapat nomor 2. Pasangan Mega-Prabowo yang datang paling akhir, mendapat nomor urut 1.

( mad / mok )

Advertisements

Bisakah Kita (Ummat) Bersatu?


sumber: http://pk-sejahtera.org/v2/index.php?op=isi&id=6558

Presiden PKS, Tifatul Sembiring

Bisakah Kita (Ummat) Bersatu?

Menyambut Tahun Baru 1430 Hijriyah
Oleh: TIFATUL SEMBIRING
PRESIDEN PKS

Tahun baru hijriyah diyakini banyak pemikir Islam sebagai tahun kebangkitan Islam, bahkan menjadi titik balik kemenangan perjuangan Rasulullah saw. dan para shahabat. Setiap tahun kita memperingati tahun baru Islam ini, namun sudahkah secara substansial ada pencerahan di tubuh ummat dengan berlalunya tahun baru demi tahun baru? Sudahkah semangat energizing berhasil kita serap dari momentum yang menjadi titik balik kemenangan tadi…?. Masih banyak permasalahan ummat yang belum tuntas kita upayakan solusinya, termasuk masalah persatuan ummat dan pemunculan sosok-sosok pemimpin yang berkualitas.

Perpecahan selalu membawa malapetaka dan kerusakan besar di tengah-tengah ummat. Kurang percayakah kita? Kurang yakinkah kita setelah demikian banyak bukti sejarah memberi pelajaran? Perpecahan, perselisihan di perang Uhud misalnya, mengakibatkan gagalnya kemenangan yang semula sudah diraih. Rasulullah saw. tembus di pipinya karena dilempari dengan pecahan besi, yang ketika dicabut menyebabkan dua gigi beliau patah. Bahkan ketika para sahabat memapah beliau ke tempat yang lebih tinggi, Rasulullah saw terperosok ke dalam lubang jebakan yang berisi senjata tajam, sehingga paha beliau sobek dan jatuh pingsan karena begitu banyaknya darah yang keluar.

Kurang yakinkah kita akan efek dari perpecahan? Tengoklah perang Shiffin yang disebabkan oleh konflik antara Ali dan Mu’awiyah. Perang yang menelan korban 80.000 muslimin. Sebuah tragedi kelam dalam sejarah Islam. Belum paham jugakah kita bagaimana pedihnya perpecahan? Di Iraq, ratusan orang menjadi korban ketika kaum Syi’ah menyerang kaum Sunniy. Selanjutnya kaum Sunniy menyerang kaum Syi’ah sehingga meninggal pula sejumlah orang, dan seterusnya tak berkesudahan. Padahal sunniy bukanlah musuh syi’ah dan syi’ah bukanlah musuh sunniy? Musuh mereka adalah sang penjajah Amerika.
Belum sadarkah kita tentang apa yang terjadi di Palestina? Ketika Presiden Palestina—Mahmud Abbas—berkunjung ke Indonesia dan mengundang untuk berdiskusi, dengan tegas saya sampaikan kepada beliau, bahwa bangsa Palestina tidak akan meraih kemenangan kecuali mereka bersatu melawan Israel.
Benarlah kata Imam Ali dalam pesannya, “Kebenaran yang tidak terorganisir akan dapat dikalahkan oleh kebathilan yang terorganisir”.

Sesungguhnya modal kita untuk bersatu sangat sederhana. Ialah ketika kita sepakat untuk mengucapkan “Asyhadu an laa ilaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadurrasulullah”. Bagi kami, ketika seseorang menyatakan komitmennya untuk taat pada Allah dan Rasul-Nya, cukuplah itu. Soal fiqh, furu’, cabang-cabang, pendapat, mari kita bicarakan, mari kita diskusikan, mari kita perdalam. Wong niatnya sama-sama mau masuk surga kok, kenapa harus cek-cok?

TANTANGAN & VISI KE DEPAN

Sebetulnya apakah persoalan pokok ummat? Agenda mendesak apa yang perlu kita selesaikan bersama? Hal terberat yang sedang dihadapi ummat kini adalah kemiskinan, yang nyaris mendekatkan mereka kepada kekufuran. Ada beberapa contoh kasus, di Bandung misalnya, seorang Ibu(berkerudung pula) sampai hati membunuh anaknya karena khawatir anak-anaknya miskin. Juga di Makassar, seorang Ibu yang sedang hamil meninggal karena kelaparan. Tiga hari dia tidak makan, demikian pula anak-anaknya.
Kelemahan ekonomi ummat adalah penyebabnya. Hingga saat ini kemampuan ummat untuk berekonomi belumlah memadai. Bagai menjadi budak di negeri sendiri. Baik dari sisi akses terhadap sumber daya maupun skill-nya. Ekonomi masih dikuasai oleh sistem, konvensional ribawi. Lalu datanglah krisis ekonomi, masalah semakin berat. Akibatnya langsung dapat dilihat. Untuk menyelamatkan keluarga, para gadis dan ibu-ibu berangkat menjadi TKW diluar negeri. Dimana ‘izzah ummat ?, martabat bangsa. Begitu kerap kita mendengar kasus-kasus yang menyayat hati: ada yang diperkosa, dihukum mati, ada yang terjun dari tingkat empat lantaran tidak tahan disiksa majikan. Dan kita tidak mampu melindungi mereka.
Masalah moral juga menorehkan catatan menyedihkan. Kita dapati tokoh-tokoh muslim yang namanya seperti nama Nabi, seperti gelar Nabi, seperti nama orang sholeh namun ditangkap KPK. Mereka menjadi harapan ummat, menyandang nama terpercaya, namun ternyata korupsi. Seberapa kuatkah komitmen moral kita? Moral Islam.

Agenda berikutnya adalah pendidikan. Soal penyiapan SDM unggul, yang dapat diandalkan menjalankan roda pembangunan ummat. Apalagi persiapan kepemimpinan nasional dimasa mendatang. Sekarang saja, bangsa besar ini seperti kebingungan mencari calon pemimpinnya. Kita masih saling bertanya satu sama lain, padahal kita berdoa “waj’alna lil muttaqiina imaman”. Kita mohon pada Allah swt. agar menjadikan anak-anak kita sebagai pemimpin orang-orang bertaqwa.
Memang kita memiliki banyak pesantren. Namun setelah kami riset, pesantren-pesantren tersebut dapat kita bagi dalam dua kategori. Kategori pertama adalah pesantren yang memiliki metode pengajaran dan kurikulum bagus, namun sarananya amat memprihatinkan. Di sebuah pesantren kami pernah menemukan sebuah ruang 3×4 m2 yang dihuni oleh 30 anak. Sanitasinya tidak terawat, bak penampung air mandi yang tak pernah diganti sehingga menyebabkan penyakit kulit. Bahkan ada sebuah pemeo, tidak sah menjadi santri kalau tidak kudisan.
Kelompok kedua adalah pesantren yang memiliki sarana bagus, namun kurikulumnya tidak memiliki keunggulan. Penyiapan kwalitas SDM ummat ini perlu pembenahan, dengan sinergi dan persatuan dan keuatan bersama tentunya.

SIAPA YANG HARUS BERBUAT?

Dalam konteks ummat Islam Indonesia setiap orang tentu merujuk kepada NU dan Muhammadiyyah dengan segenap elitenya. Pertanyaannya adalah, bisakah kita menurunkan tensi jurang pemisah. Saling adzillatin, menjalin tali asih. Saling merendah dan bukannya saling gengsi. Bisakah kita sesama ummat BERHENTI saling mencurigai(su’uzhan), saling mengintai(wa laa tajassasu), saling membelakangi dan saling menggunjing(ghibah). Kita membutuhkan persatuan dalam kesejukan ikatan kasih sayang persaudaraan. Bila bersatu, maka kita akan kuat dan insya Allah sanggup untuk menghadapi kekuatan kebathilan apapun bentuknya.

Sangat mungkin dan sangat layak ummat ini bersatu. Pak Din, Pak Hasyim dan Pak Hidayat—tokoh-tokoh harapan ummat–sama-sama alumni Gontor dan sama-sama menduduki posisi strategis. Dengan seringnya tokoh-tokoh yang dicintai ummat ini bersilaturahim, syak wasangka akan terhapus, keakraban akan kian kokoh dan berbagai pemikiran untuk kemajuan ummat dan bangsa akan mengalir deras. Terbayang betapa bahagia dan sejuknya hati ummat menyaksikan para pemimpinnya kokoh bersatu. Sesuatu yang sudah amat kita rindukan.

Tak ada ghill secuilpun dari kami terhadap NU dan Muhammadiyyah. Kami tidak memiliki rencana negatif apapun terhadap saudara-saudara kami NU dan Muhammadiyyah. Kami bergerak di ranah politik, sama dengan saudara-saudara kami parpol Islam lainnya. Membenahi eksekutif dan legislatif, mengadvokasi ummat di ranah pembuatan kebijakan publik. Bila perjuangan di ranah politik ini mendapat dukungan dari saudara-saudara kami yang lain, khususnya ormas-ormas, tentu kita akan memiliki kekuatan yang sangat dahsyat.
Demikianlah harapan kita, ummat ini menjadi kuat, karena kita saling merunduk, saling merangkul, bagaikan satu tubuh. Sehingga kita (ummat) ini bisa dan harus bersatu untuk maju. Selamat Tahun Baru 1430 Hijriyah !

Pengirim: MHN Update: 24/12/2008 Oleh: MHN

Bisakah Kita (Ummat) Bersatu?


sumber: http://pk-sejahtera.org/v2/index.php?op=isi&id=6558

Presiden PKS, Tifatul Sembiring

Bisakah Kita (Ummat) Bersatu?

Menyambut Tahun Baru 1430 Hijriyah
Oleh: TIFATUL SEMBIRING
PRESIDEN PKS

Tahun baru hijriyah diyakini banyak pemikir Islam sebagai tahun kebangkitan Islam, bahkan menjadi titik balik kemenangan perjuangan Rasulullah saw. dan para shahabat. Setiap tahun kita memperingati tahun baru Islam ini, namun sudahkah secara substansial ada pencerahan di tubuh ummat dengan berlalunya tahun baru demi tahun baru? Sudahkah semangat energizing berhasil kita serap dari momentum yang menjadi titik balik kemenangan tadi…?. Masih banyak permasalahan ummat yang belum tuntas kita upayakan solusinya, termasuk masalah persatuan ummat dan pemunculan sosok-sosok pemimpin yang berkualitas.

Perpecahan selalu membawa malapetaka dan kerusakan besar di tengah-tengah ummat. Kurang percayakah kita? Kurang yakinkah kita setelah demikian banyak bukti sejarah memberi pelajaran? Perpecahan, perselisihan di perang Uhud misalnya, mengakibatkan gagalnya kemenangan yang semula sudah diraih. Rasulullah saw. tembus di pipinya karena dilempari dengan pecahan besi, yang ketika dicabut menyebabkan dua gigi beliau patah. Bahkan ketika para sahabat memapah beliau ke tempat yang lebih tinggi, Rasulullah saw terperosok ke dalam lubang jebakan yang berisi senjata tajam, sehingga paha beliau sobek dan jatuh pingsan karena begitu banyaknya darah yang keluar.

Kurang yakinkah kita akan efek dari perpecahan? Tengoklah perang Shiffin yang disebabkan oleh konflik antara Ali dan Mu’awiyah. Perang yang menelan korban 80.000 muslimin. Sebuah tragedi kelam dalam sejarah Islam. Belum paham jugakah kita bagaimana pedihnya perpecahan? Di Iraq, ratusan orang menjadi korban ketika kaum Syi’ah menyerang kaum Sunniy. Selanjutnya kaum Sunniy menyerang kaum Syi’ah sehingga meninggal pula sejumlah orang, dan seterusnya tak berkesudahan. Padahal sunniy bukanlah musuh syi’ah dan syi’ah bukanlah musuh sunniy? Musuh mereka adalah sang penjajah Amerika.
Belum sadarkah kita tentang apa yang terjadi di Palestina? Ketika Presiden Palestina—Mahmud Abbas—berkunjung ke Indonesia dan mengundang untuk berdiskusi, dengan tegas saya sampaikan kepada beliau, bahwa bangsa Palestina tidak akan meraih kemenangan kecuali mereka bersatu melawan Israel.
Benarlah kata Imam Ali dalam pesannya, “Kebenaran yang tidak terorganisir akan dapat dikalahkan oleh kebathilan yang terorganisir”.

Sesungguhnya modal kita untuk bersatu sangat sederhana. Ialah ketika kita sepakat untuk mengucapkan “Asyhadu an laa ilaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadurrasulullah”. Bagi kami, ketika seseorang menyatakan komitmennya untuk taat pada Allah dan Rasul-Nya, cukuplah itu. Soal fiqh, furu’, cabang-cabang, pendapat, mari kita bicarakan, mari kita diskusikan, mari kita perdalam. Wong niatnya sama-sama mau masuk surga kok, kenapa harus cek-cok?

TANTANGAN & VISI KE DEPAN

Sebetulnya apakah persoalan pokok ummat? Agenda mendesak apa yang perlu kita selesaikan bersama? Hal terberat yang sedang dihadapi ummat kini adalah kemiskinan, yang nyaris mendekatkan mereka kepada kekufuran. Ada beberapa contoh kasus, di Bandung misalnya, seorang Ibu(berkerudung pula) sampai hati membunuh anaknya karena khawatir anak-anaknya miskin. Juga di Makassar, seorang Ibu yang sedang hamil meninggal karena kelaparan. Tiga hari dia tidak makan, demikian pula anak-anaknya.
Kelemahan ekonomi ummat adalah penyebabnya. Hingga saat ini kemampuan ummat untuk berekonomi belumlah memadai. Bagai menjadi budak di negeri sendiri. Baik dari sisi akses terhadap sumber daya maupun skill-nya. Ekonomi masih dikuasai oleh sistem, konvensional ribawi. Lalu datanglah krisis ekonomi, masalah semakin berat. Akibatnya langsung dapat dilihat. Untuk menyelamatkan keluarga, para gadis dan ibu-ibu berangkat menjadi TKW diluar negeri. Dimana ‘izzah ummat ?, martabat bangsa. Begitu kerap kita mendengar kasus-kasus yang menyayat hati: ada yang diperkosa, dihukum mati, ada yang terjun dari tingkat empat lantaran tidak tahan disiksa majikan. Dan kita tidak mampu melindungi mereka.
Masalah moral juga menorehkan catatan menyedihkan. Kita dapati tokoh-tokoh muslim yang namanya seperti nama Nabi, seperti gelar Nabi, seperti nama orang sholeh namun ditangkap KPK. Mereka menjadi harapan ummat, menyandang nama terpercaya, namun ternyata korupsi. Seberapa kuatkah komitmen moral kita? Moral Islam.

Agenda berikutnya adalah pendidikan. Soal penyiapan SDM unggul, yang dapat diandalkan menjalankan roda pembangunan ummat. Apalagi persiapan kepemimpinan nasional dimasa mendatang. Sekarang saja, bangsa besar ini seperti kebingungan mencari calon pemimpinnya. Kita masih saling bertanya satu sama lain, padahal kita berdoa “waj’alna lil muttaqiina imaman”. Kita mohon pada Allah swt. agar menjadikan anak-anak kita sebagai pemimpin orang-orang bertaqwa.
Memang kita memiliki banyak pesantren. Namun setelah kami riset, pesantren-pesantren tersebut dapat kita bagi dalam dua kategori. Kategori pertama adalah pesantren yang memiliki metode pengajaran dan kurikulum bagus, namun sarananya amat memprihatinkan. Di sebuah pesantren kami pernah menemukan sebuah ruang 3×4 m2 yang dihuni oleh 30 anak. Sanitasinya tidak terawat, bak penampung air mandi yang tak pernah diganti sehingga menyebabkan penyakit kulit. Bahkan ada sebuah pemeo, tidak sah menjadi santri kalau tidak kudisan.
Kelompok kedua adalah pesantren yang memiliki sarana bagus, namun kurikulumnya tidak memiliki keunggulan. Penyiapan kwalitas SDM ummat ini perlu pembenahan, dengan sinergi dan persatuan dan keuatan bersama tentunya.

SIAPA YANG HARUS BERBUAT?

Dalam konteks ummat Islam Indonesia setiap orang tentu merujuk kepada NU dan Muhammadiyyah dengan segenap elitenya. Pertanyaannya adalah, bisakah kita menurunkan tensi jurang pemisah. Saling adzillatin, menjalin tali asih. Saling merendah dan bukannya saling gengsi. Bisakah kita sesama ummat BERHENTI saling mencurigai(su’uzhan), saling mengintai(wa laa tajassasu), saling membelakangi dan saling menggunjing(ghibah). Kita membutuhkan persatuan dalam kesejukan ikatan kasih sayang persaudaraan. Bila bersatu, maka kita akan kuat dan insya Allah sanggup untuk menghadapi kekuatan kebathilan apapun bentuknya.

Sangat mungkin dan sangat layak ummat ini bersatu. Pak Din, Pak Hasyim dan Pak Hidayat—tokoh-tokoh harapan ummat–sama-sama alumni Gontor dan sama-sama menduduki posisi strategis. Dengan seringnya tokoh-tokoh yang dicintai ummat ini bersilaturahim, syak wasangka akan terhapus, keakraban akan kian kokoh dan berbagai pemikiran untuk kemajuan ummat dan bangsa akan mengalir deras. Terbayang betapa bahagia dan sejuknya hati ummat menyaksikan para pemimpinnya kokoh bersatu. Sesuatu yang sudah amat kita rindukan.

Tak ada ghill secuilpun dari kami terhadap NU dan Muhammadiyyah. Kami tidak memiliki rencana negatif apapun terhadap saudara-saudara kami NU dan Muhammadiyyah. Kami bergerak di ranah politik, sama dengan saudara-saudara kami parpol Islam lainnya. Membenahi eksekutif dan legislatif, mengadvokasi ummat di ranah pembuatan kebijakan publik. Bila perjuangan di ranah politik ini mendapat dukungan dari saudara-saudara kami yang lain, khususnya ormas-ormas, tentu kita akan memiliki kekuatan yang sangat dahsyat.
Demikianlah harapan kita, ummat ini menjadi kuat, karena kita saling merunduk, saling merangkul, bagaikan satu tubuh. Sehingga kita (ummat) ini bisa dan harus bersatu untuk maju. Selamat Tahun Baru 1430 Hijriyah !

Pengirim: MHN Update: 24/12/2008 Oleh: MHN

3 PASANG CAPRES 2009



Sampai saat ini sudah ada 3 pasangan calon presiden untuk 2009:
– JK-WIRANTO
– SBY – BUDIONO
– MEGAWATI – PRABOWO

Siapa saja mereka secara luas sudah banyak diulas, nanti coba menelisik lebih dalam. Siapa yang harus dipilih? apa yang didukung PKS atau sesama alumni IPB? :)) itu-itu keneh….

Moga-moga yang terbaik untuk rakyat bukan untuk diri mereka sendiri dan konco2nya.. tanpa retorika yang penting mah HASIL.

ANTASARI AZHAR, SEKARANG JADI SELEBRITI BENERAN


Gogling lagi tentang AA, nemu berita di FigurPublik ini suumbernya http://www.figurpublik.com/profesi/showprofesi.php?id=2

gambar : http://www.kpk.go.id

Judulnya hebat dan “jadi kenyataan”: Antasari Azhar Merasa Jadi Selebritis

Antasari Azhar,
Merasa Jadi Selebritis

ENTAH berkah entah pula musibah, yang jelas kasus Tommy Soeharto telah melambungkan nama Antasari Azhar, Kepala Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan. Tak heran, kalau setiap kali ia berada di tempat-tempat umum, orang-orang langsung menatapnya sambil berbisik-bisik. Sebenarnya, ia merasa risi juga. Namun apa mau dikata. “Saya merasa menjadi selebritis,” guyon Antasari.

Namun di balik ketenaran, tidak bisa dipungkiri, Antasari menanggung beban yang cukup berat setelah gagal melakukan eksekusi terhadap Tommy, yang sejak sebulan lalu dinyatakan buron. Sampai-sampai, ia sendiri sempat “dicurigai” ikut menghalang-halangi eksekusi. Memang, banyak orang yang bertanya-tanya terhadap cara eksekusi yang dilakukan oleh Antasari dan kawan-kawan. Misalnya, Antasari tidak langsung melakukan eksekusi begitu putusan MA turun. Selain itu, ketika grasi Tommy ditolak Presiden, Antasari juga tidak langsung melakukan eksekusi terhadap putra mantan orang kuat Orde Baru itu. Yang lucunya, ketika hari H pemanggilan Tommy ke Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan, Antasari juga belum bisa memastikan apakah Tommy sudah menerima salinan penolakan grasi atau tidak. Anehnya lagi, waktu itu (Jumat, 3 November), Kepala Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan “mengundang” Tommy ke kantornya pada siang hari, bukan paginya. Bila tidak memenuhi undangan itu, baru mereka akan melakukan upaya paksa. Tapi, ternyata, ketika eksekusi paksa hendak dilakukan, Tommy sudah tidak ada lagi di Cendana.

Tidak jelas, apakah kelemahan-kelemahan semacam itu semata-mata persoalan administratif saja atau memang kelambanan Antasari sendiri dalam bertindak. Kalau betul itu kelemahan administratif, mungkin bukan Antasari sendiri yang harus bertanggungjawab, meskipun ia tidak bisa begitu saja lepas tangan. Namun, jika itu karena kelambanan Antasari, tidak salah kalau kesan yang muncul ia sengaja mengulur-ulur waktu eksekusi. Yang terlihat, Antasari memang kurang memperhitungkan bahwa yang akan dieksekusi itu adalah manusia, bukan benda mati yang tidak bisa lari.

Selain itu, kelihatan sekali ia terlalu percaya pada pengacara Tommy. Simak saja jawabannya ketika ditanya TEMPO, mengapa saat permohonan grasi Tommy ditolak Presiden, pihaknya tidak segera melakukan eskekusi:
“Pengacara Tommy bilang bahwa eksekusi tidak dapat dilakukan karena mereka belum menerima petikan penolakan grasi.”
Apakah hal itu karena salah satu pengacara Tommy, Bob RE Nasution, adalah seniornya di kejaksaan? “Saat bertugas di Jakarta Pusat, saya memang menjadi anak buah Pak Bob. Sekarang, kalau bicara hukum, posisi kami berbeda,” kilah Antasari. Ia juga membantah ada deal khusus antara dirinya dan Bob mengenai eksekusi Tommy. Yang juga menjadi pertanyaan publik adalah cara kejaksaan melakukan penggeledahan terhadap kediaman Tommy dan keluarga besarnya di Cendana. Sebelum penggeledahan dilakukan, pihaknya sudah lebih dulu mengumumkan target-target penggeledahan itu. Ia lagi-lagi lupa bahwa yang akan dicari dengan penggeledahan itu bukan benda mati, yang tidak bisa lari atau bersembunyi. Tak heran kalau kemudian kisah pengejaran Tommy lebih mirip sandiwara belaka. Mungkin hal itu juga yang membuat Jaksa Agung Marzuki Darusman, seperti dikutip Kompas, perlu melaporkan Antasari kepada polisi, meskipun kemudian Marzuki membantahnya. Namun Antasari tetap dalam posisi yang tidak enak, setidaknya publik memberi penilaian bahwa ia tidak bisa menjalankan tugasnya dengan baik. Padahal, sebelum Tommy lari, ia sudah terlihat sangat optimis bisa membawa Tommy ke Cipinang. Ia pun tampak tidak khawatir terhadap kemungkinan Tommy melarikan diri. Alasannya, Tommy telah dicekal.

Sementara orang-orang menyorotnya tidak becus, Antasari sendiri justru menganggap pengacara Tommylah yang berusaha menghalang-halangi eksekusi. Ia tidak yakin dengan alasan yang dikemukakan oleh sang pengacara bahwa Tommy mendapat teror akan dibunuh dan sebagainya. “Darimana saya tahu alasan itu dari Tommy? Tommy enggak pernah kontak saya,” ujarnya. Ia menduga, alasan itu hanya bikinan pengacaranya. Namun begitu, seperti dituturkannya kepada TEMPO, ia optimis Tommy akan tertangkap, bahkan dalam hitungan hari. Benarkah?

Antasari sendiri, walau menanggung beban yang cukup berat, kelihatan santai-santai saja. Setidaknya, ia tidak terlihat tegang. Meskipun ada sebagian orang yang mencemoohnya, bahkan mencaci-maki. Hal yang juga terpaksa diterima anak-anaknya. “Saya kan jadi repot, tiap hari ditanyain terus sama temen-temen soal Tommy,” ujar Andita, anak pertamanya yang duduk di bangku kelas III SMU. Meski begitu, mereka tetap mendukung sang ayah. “Tiap malam saya berdoa supaya Tommy tertangkap dan bapak jadi tenang,” kata Ajeng, putri bungsunya yang baru kelas III SMP. Tentu saja, selain “celoteh kanan-kiri” yang harus diterima, ada pula yang menunjukan rasa simpati dengan mengirim bunga atau parsel. Yang pasti, selama menangani kasus Tommy kesibukannya menjadi sangat meningkat. Sampai-sampai waktunya untuk keluarga nyaris tak ada. Pulang ke rumah kadang-kadang sudah sangat larut malam, bahkan dini hari, lalu berangkat lagi sekitar pukul enam pagi. Untungnya, isteri dan anak-anaknya bisa memahami hal tersebut. Walaupun demikian, Antasari merasa sedih juga telah “menerlantarkan” keluarganya, juga mengorbankan kegemarannya bermain tenis. Tidak jarang, ketika sedang berjalan bersama dua anaknya, ia mendapat telepon yang membuatnya harus meninggalkan acara keluarganya itu. “Biasanya anak-anak saya suruh pulang naik taksi saja,” kisahnya.
Lahir di Pangkal Pinang, Bangka, 47 tahun lalu. Ia menamatkan sekolah dasar di Belitung. Sementara SMP dan SMA ditamatkannya di Jakarta. Selanjutnya, ia masuk Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya, Jurusan Tata Negara. Di kampus itu, Antasari dikenal sebagai salah seorang yang aktif di organisasi. Ia sempat menjadi Ketua Senat Mahasiswa dan Kedua Badan Perwakilan Mahasiswa. “Saya kan bekas demonstran tahun 78,” akunya bangga.

Lulus kuliah, ia kembali ke Jakarta. Awalnya, Antasari bercita-cita menjadi diplomat. Tetapi rupanya, perjalanan hidupnya berkata lain: ia diterima menjadi jaksa. Awal karirnya sebagai penegak hukum itu ia jalani saat menjadi jaksa fungsional di Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat (1985-1989). Pelan-pelan karirnya meningkat. Setelah bertugas di sejumlah daerah di Tanjung Pinang, Lampung, Jakarta Barat, dan Baturaja ia ditarik ke Kejaksaan Agung menjadi Kasubdit Upaya Hukum Pidana Khusus. Namanya pun mulai berkibar. Dari sana, ia dipindahkan menjadi Kepala Subdit Penyidikan Pidana Khusus. Terakhir, sebelum dipercayakan menjadi Kepala Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan, Antasari menjabat Kepala Bidang Hubungan Masyarakat di lembaga yang kini dipimpin Marzuki Darusman itu.
Untuk mendukung tugas-tugasnya itu, ia tidak pernah berhenti belajar. Antasari tidak hanya membaca dan mengoleksi berbagai buku, terutama buku-buku berbau hukum tetapi juga mengikuti kuliah formal untuk menambah ilmunya. Kini ia sedang mengambil gelar master bidang bussiness law di IBLAM, lembaga yang dikelola oleh mantan Hakim Agung Bismar Siregar. Semangat untuk menambah wawasan itu bisa terbaca begitu memasuki ruang kerjanya: deretan buku memenuhi lemari di sana. Tidak jelas, apakah di sana juga ada buku-buku yang berisi soal bagaimana mempercepat tertangkapnya seorang terpidana yang sedang buron?
(Tokoh Indonesia/Andari Karina Anom/Nurakhmayani/Tempo Interaktif)

ANTASARI AZHAR, Bagaimana akhir kisah sang Pemburu Tikus?


Sempat melihat sedikit klip acara KICK ANDY dengan bintang tamu saat itu AA -yang sekarang beritanya timbul tenggelam bersaing dengan pendaftaran Capres- Saat itu Host KA – Andy F NOya tentunya- bilang “banyak lho yang ingin Bapak -maaf- mati! AA tertegun sesaat… lucu fikirku saat itu… Kenyataanya sekarang, sang “Pemburu Tikus” tikus itu terancam hukuman mati…ehm.. tragisnya hidup.

Siapa yang bersorak? jelas para TIKUS… anda termasuk yang bersorak? moga-moga jangan ya.

sumber gambar : http://www.kpk.go.id

http://www.kickandy.com/?ar_id=MTE5NQ==
SANG PEMBURU “TIKUS”
Sosok yang satu ini memang unik. Awalnya banyak yang meragukan kemampuannya untuk memberantas kasus korupsi yang ada di negeri ini. Korupsi yang sudah mewabah memang membuat banyak orang bergidik. Korupsi sudah dianggap sebagai kejadian yang biasa dan lumrah. Masyarakat sudah putus asa, apa bisa korupsi di Indonesia ini bisa diberantas.

Namun ketika Antasari Ashar tepilih menjadi ketua Komisi Pemberantasan Korupsi, kekhawatiran itu setidaknya terobati. KPK langsung menggebrak dengan melakukan penggerebekan dan penahanan sejumlah tersangka korupsi. Tidak hanya aparat kejaksaan saja yang berhasil diseret ke meja hijau. Namun sejumlah anggota Dewan Perwakilan Rakyat juga berhasil diringkus dan digelandang ke pengadilan.

Peristiwa yang menarik adalah penangkapan jaksa Urip Tri Gunawan pada Maret 2008 lalu. Jaksa Urip ketika itu tertangkap tangan ketika akan mengambil uang suap dari Artalyta Suryani, orang dekat Samsul Nursalim, pengusaha yang sedang tersandung kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia, BLBI. Yang membuat banyak orang tercengang adalah jumlah uang suap yang akan diambil jaksa Urip. Artalyta Suryani kala itu menyuap Jaksa Urip sebesar 660 juta dolar Amerika, atau setara dengan Rp 6 miliar. Peristiwa lainnya adalah penangkapan anggota DPR Amien Nasution. Anggota Komisi IV itu juga tertangkap tangan ketika sedang menerima uang suap dari Sekretaris Daerah Kabupaten Bintan, Azirwan. Peristiwa itu berlanjut dengan penangkapan dan penahanan Yamka Handu dan Anthony Zeidra Abidin terkait kasus aliran dana Bank Indonesia ke DPR.

Melihat sepak terjang ayah dua putri ini masyarakat setidaknya bisa bernafas lega. Padahal sebelumnya masyarakat meragukan kemampuan pria asal Bangka itu. Sepak terjang Antasari Ashar sebelumnya memang membuat orang ragu-ragu atas kemampuannya. Ini terekam saat ia menjabat Kepala Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan. Kala itu ia terlambat melakukan eksekusi terhadap anak bungsu presiden Soeharto, Tommy Soeharto. Akibatnya Tommy melarikan diri dan sempat buron. Selain itu, saat Antasari Ashar menjabat Kepala Kejaksaan Tinggi Sumatera Barat, ia juga ragu-ragu mengeksekusi 32 anggota DPRD yang terlibat korupsi. Padahal kasus itu sudah mempunyai kekuatan hukum tetap dari Mahkamah Agung

Namun ternyata Antasari Ashar menjawab keraguan masyarakat dengan bertindak lugas dan tegas saat menjabat Ketua KPK. Ia mencanangkan perang terhadap kasus korupsi. “Saya tidak akan ragu-ragu lagi menangkap dan menahan orang yang benar-benar terbukti melakukan tindak pidana korupsi”, ujarnya mantap.

Dan, Antasari Ashar akan terus menggebrak dan mengejar para “tikus” yang menggerogoti keuangan negara. Tentu saja akibat gebrakan Antasari Ashar ada risikonya. Keselamatan jiwanya bisa saja terancam mengingat banyak orang yang sakit hati kepadanya. Ketika ditanya soal keselamatan dirinya terhadap berbagai ancaman itu, Antasari Ashar yang pernah kuliah di Universitas Sriwijaya Palembang ini berujar kalem “Biarlah itu menjadi rahasia saya, dan akan saya tanggung sendiri”.

dari situs Kick Andy.
============

Yang bener namanya Antasari ANHAR, ASHAR atau AZHAR ya? :((

NEOLIBERAL, mahluk apaan ya? ko ngetrend

sumber: http://www.detikfinance.com/read/2009/05/14/143836/1131440/4/ekonomi-neoliberal-masih-adakah

Kamis, 14/05/2009 14:38 WIB
Ekonomi Neoliberal, Masih Adakah?
Nurul Qomariyah – detikFinance

Jakarta – Kalimat ekonomi neoliberal sedang jadi tren menjelang pemilihan presiden. Mencuatnya Boediono sebagai cawapres pun lantas dikait-kaitkan dengan paham ekonomi neoliberal itu. Benar kah? Bagaimana sebetulnya ekonomi neoliberal ini?

Ekonomi neoliberal diartikan sebagai filosofi ekonomi-politik yang mengurangi atau menolak campur tangan pemerintah dalam ekonomi domestik. Ekonomi neoliberal fokus pada metode pasar bebas dan sangat sedikit membatasi perilaku bisnis dan hak-hak milik pribadi.

Dalam pandangan kepala ekonom Bank Danamon, Anton Gunawan, saat ini susah untuk mencari negara yang menerapkan model ekonomi neoliberal secara murni. Amerika Serikat (AS) yang disebut-sebut menerapkan ekonomi neoliberal, sebenarnya tak lagi secara murni menerapkan teori itu.

“AS sebenarnya tidak purely ekonomi neoliberalisme. Segala sesuatunya ada UU. Bahkan sekelas Microsoft pun kena aturan. Mereka sendiri secara relatif, kalau bikin spektrumnya relatif sebelah kanan, lebih ke sangat terbuka, sangat bebas. Tapi mereka juga mengimbangi untuk menolong masyarakatnya, dengan modal security system untuk menolong masyarakat yang tidak mampu,” urai Anton dalam perbincangannya dengan detikFinance, Kamis (14/5/2009).

Negara mana yang kini menerapkan neoliberalisme? “Sekarang susah kalau mau mencari yang purely neoliberalism,” ujar Anton.

Lantas bagaimana dengan Indonesia?

Anton menjelaskan, dari banyak sisi, mengkaitkan perekonomian Indonesia dengan paham ekonomi neoliberalisme sangat lah jauh. Salah satu indikator dari ekonomi neoliberalisme adalah seberapa jauh peran negara dalam perekonomian.

Padahal di Indonesia, justru peran pemerintah sangat besar bagi perekonomian Indonesia. Badan-badan usaha pemerintah juga memberikan kontribusi yang cukup besar.

Kalau pun mau dilihat dari peran Foreign Direct Investment (FDI) terhadap PDB, nilainya cukup kecil di Indonesia.

“Porsi FDI terhadap PDB di Indonesia tu masih relatif kecil kalau dibandingkan dengan yang lain. Mungkin untuk 2-3 sektor seperti pertambangan, FDI besar, tapi yang lain kan tidak? Bahkan untuk sektor perbankan, bank BUMN justru mendominasi,” tambah Anton.

Neoliberalisme juga memberikan batasan-batasan yang sangat kecil bagi pelaku usaha. Sementara di Indonesia pembatasan terhadap pelaku usaha sangat banyak, misalnya dengan kehadiran Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU).

“Di Indonesia, institusi mengambil peran yang penting, sementara neoliberalisme institusi tidak diperhatikan. Padahal kita sangat memperhatikan, contohnya kehadiran KPPU yang menjadi wasit jika ada monopoli,” ujarnya lagi.

Dari sisi utang luar negeri, Anton menjelaskan bahwa saat ini justru sudah dikelola dengan baik meski manajemen utangnya masih perlu ditingkatkan.

“Ke depannya, bagaimana utang itu bisa digunakan dengan lebih efektif. Jadi jangan banyak yang bocor atau terlambat pelaksanaan proyeknya,” imbuhnya.

Sosok Boediono, lanjut Anton, justru dikatakan memiliki program yang cukup kuat untuk penurunan utang-utang asing. Seperti diketahui, Boediono ketika tahun 2001-2004 menjabat sebagai Menkeu, memfokuskan perhatian pada konsolidasi fiskal.

“Program utamanya adalah konsolidasi fiskal dalam arti mencoba menyelamatkan fiskal supaya kuat dan kelihatan juga didalamnya penurunan utang-utang luar negeri yang terkait CGI. Kalau kayak gitu berarti dia cukup care dengan soal utang luar negeri,” kata Anton lagi.

Apa sebenarnya paham ekonomi Indonesia? Anton menyebutnya sebagai paham campuran.

“Kita menggunkan mekanisme pasar, dimana mekanisme pasar lebih bisa berjalan mendukung efisiensi dan produktivitas, tapi tidak kebablasan dalam artian membiarkan yang besar berkuasa, yang kecil akan mati,” paparnya.

Terkait rencana SBY memilih Boediono sebagai cawapres, Anton melihatnya dari 3 sisi:

* Pertama, Boediono dinilai sebagai orang yang bersih, anti korupsi dan tidak terlibat bisnis apapun, serta hidupnya penuh kesederhanaan. “Dia bukan tipe orang pebisnis sehingga proyek tidak akan tercampuri oleh dirinya atau keluarganya,” jelas Anton.
* Kedua, hal itu menunjukkan bahwa ekonomi masih menjadi prioritas pemerintah dalam 5 tahun ke depan, apalagi di tengah situasi krisis.
* Ketiga, untuk meredam pertikaian antara parpol yang memperebutkan posisi tersebut.

(qom/ir)