Category Archives: PAUD

Insentif Pendidik PAUD 2010

Pedoman Pemberian Bantuan Bagi Pendidik PAUD Tahun 2010

PERESMIAN PAUD AL MADINAH RENGAT

sumber: http://riaupos.com/main/index.php?mib=berita.detail&id=16811

Rabu, 08 Juli 2009 , 08:04:00
Prioritaskan Pendidikan Keagamaan

RENGAT (RP) – Ketua Forum Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Kabupaten Indragiri Hulu Hj Henny Herawati Mujtahid mengatakan, program PAUD merupakan pendidikan paling dasar bagi pertumbuhan anak, yang lebih difokuskan pada pembentukan moral keagamaan anak.

Pendidikan terhadap anak usia dini merupakan masa emas. Namun pendidikan dini itu harus dibarengi dengan pendidikan sosial dan pengembangan kemampuan anak dalam berbahasa, di antaranya bahasa Inggris dan Arab, serta kemampuan fisik dan etika. ‘’Salah satu programnya ialah dengan metode yang mudah dicerna oleh anak, seperti bermain dan belajar,’’ jelas Hj Henny pada acara peresmian PAUD Islam Terpadu Al-Madinah yang berada di Jalan Azki Aris Rengat, Selasa (7/7).

Pada acara itu juga hadir Bupati Inhu yang diwakili Kepala Dinas Pendidikan Inhu H Mazuar Peri SH MM, Camat Rengat yang diwakili Sekcam Amin Suardi, Pengurus GOPTKI Inhu Hj Artini Razmara, Penggerak PKK, Forum PAUD Inhu, pengelola PAUD Al-Madinah Hj Marfuah serta tokoh masyarakat. Hj Henny Mujthaid berharap, dalam pelaksanaannya, pengelola PAUD dan majelis guru bisa menjalin koordinasi yang baik demi kemajuan PAUD di Inhu.

Di PAUD Islam Terpadu Al-Madinah Rengat ini, terdiri dari satu komplek dengan Taman Kanak-kanak Al-Madinatun. Untuk PAUD sendiri terdiri dari tiga program di antaranya Playgroup Al- Madinah, Pentipan Arafah dan Posyandu/BKB Musdalifah. Sedangkan TK Islam Terpadu Al Madinah membuka sejumlah materi di antaranya Bahasa Inggris dan Iqroq.

Kadisdik H Mazuar Peri mengatakan, keberadaan PAUD dengan bermacam bentuk seperti playgroup, kelompok belajar dan sejenisnya itu kini tengah menjadi trend di daerah perkotaan, yang kebanyakan dibentuk oleh pihak swasta dan masyarakat. ‘’Meskipun PAUD Al-Madinah ini belum secara khusus difasilitasi oleh Pemda, namun tetap senantiasa diberikan dukungan agar PAUD yang diselenggarakan masyarakat bisa berkembang,’’ ucap dia.

Harapan untuk memajukan keberadaan PAUD di Inhu juga diharapkan dari Forum PAUD yang baru baru ini terbentuk. Sehingga melalui program dan kurikulum yang dibuat, peran Forum PAUD sangat menentukan kelangsungan PAUD untuk meningkatkan pendidikan anak usia dini, serta menanamkan iman dan taqwa terhadap anak.

Sebelumnya pengelola PAUD Al Madinah Hj Raja Marfuah mengungkapkan, pembentukan PAUD tersebut salah satunya ialah guna menunjang visi dan misi Pemkab Inhu, terutama dalam bidang peningkatan SDM. Untuk itu dalam pelaksanaannya, PAUD Al Madinah memberikan pendidikan terhadap anak, mulai dari pendidikan umum, agama, bahasa dan keterampilan dasar. Hal itu supaya anak pra sekolah memiliki pengetahuan dasar.(fat)

BERITA PAUD

sumber: PNFI.depdiknas.go.id

Iklan Pendidikan Gratis Susahkan Guru PAUD
Selasa, 26 Mei 2009 13:03 WIB 0 Komentar

DENPASAR–MI: Ketua Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia atau Himpaudi Kota Denpasar, Ida Ayu Wedawati mengemukakan, iklan pendidikan gratis di sejumlah stasiun televisi saat ini cenderung menyusahkan guru PAUD.

“Kami ini diprotes oleh masyarakat karena masih menarik uang dari orang tua. Kalau seperti itu, kan susah kami. Lembaga PAUD ini banyak dikelola sendiri atau yayasan tanpa bantaun dari pemerintah,” katanya saat ditemui di kawasan Sanur, Kota Denpasar, Selasa (26/5).

Kepala Pusat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Werdhi Kumara, Sanur Kauh, Denpasar Selatan yang juga Wakil Ketua Himpaudi Provinsi Bali itu mengemukakan, pengelola pendidikan anak-anak yang tergolong ‘usia emas’ itu tidak mungkin tidak memungut dana dari orang tua.

“Untuk biaya operasional sekolah dan honor guru, kalau tidak menarik dana dari orang tua, dari mana lagi. Orang tua banyak protes setelah melihat iklan TV itu. Saya bilang pada orang tua, tanya ke TV-nya saja,” kata lulusan Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu.

Menurut dia, seharusnya di iklan itu dicantumkan secara jelas bahwa yang digratiskan adalah pendidikn formal dari SD hingga SMP atau yang dikenal dengan wajib belajar (wajar) sembilan tahun.

“Kalau tidak dicantumkan secara jelas seperti itu, maka iklan gratis tersebut sama saja dengan membodohi masyarakat. Jangan bodohi masyarakat dengan iklan. Antara iklan di TV dengan kenyataan di masyarakat itu memang beda,” katanya.

Selain iklan gratis, katanya, para orang tua juga tidak sedikit yang bertanya mengenai dana bantuan operasional sekolah (BOS) yang juga sering muncul di media, khususnya televisi. Padahal BOS hanya diperuntukkan untuk pendidikan formal, sedangkan PAUD tidak ada.

“Ini kenyataan yang terjadi. Padahal seharusnya, lembaga PAUD ini lebih diperhatikan karena merupakan pendidikan yang sangat dasar untuk membentuk anak. Anak usia PAUD, 0-6 tahun ini adalah usia emas yang harus mendapatkan perhatian,” ujarnya. (Ant/OL-04)

BERITA PAUD

sumber: http://www.pnfi.depdiknas.go.id/publikasi/read/20070307124803/Pengajar-PAUD-Honornya-Rp-50-Ribu-Sebulan.html

Pengajar PAUD Honornya Rp 50 Ribu Sebulan
07/03/2007 – 12:48:03 | Read 2,544 Time(s)

“” Sulit dipercaya! Ternyata masih ada pengajar PAUD yang berhonor Rp 50 ribu sebulan. Tengok saja ke desa-desa di Jawa Tengah…. “”

Sulit dipercaya! Ternyata masih ada pengajar PAUD yang berhonor Rp 50 ribu sebulan. Tengok saja ke desa-desa di Jawa Tengah. Di sana, para pengajar PAUD, paling tinggi menerima honor Rp 100 ribu per bulan. Bahkan ada yang hanya menerima Rp 50 ribu sebulan. Padahal semua orang tahu beban tugas mereka cukup berat.

artikel0703033.gifKenyataan tersebut tentu cukup memprihatinkan. Jumlah nominal tersebut tentu mengenaskan dan tidak sebanding dengan dedikasi yang mereka berikan. Untuk menjaga program PAUD di Jawa Tengah, Himpaudi mengeluarkan imbauan pemkab/pemkot dapat memberikan bobot perhatian lebih dengan meningkatkan kesejahteraan para tenaga pengajar PAUD.

Pada 2006 lalu program PAUD di Jateng menerima kucuran dana dari APBN sebesar Rp 6,6 miliar serta dari Pemprov senilai Rp 3,6 miliar. Namun, mengingat wilayah cakupannya yang luas, dana tersebut tetap saja terasa kecil, katanya.

Penanggung Jawab PAUD Provinsi Jawa Tengah Joko Hartanto mengantakan, sejak pertama kali diperkenalkan hingga sekarang, perkembangan PAUD di Jateng sudah makin mantap.

Banyak daerah dengan dukungan pemkab/pemkot setempat beramai-ramai mendirikan lembaga PAUD. Hingga akhir 2006 lalu, di Jateng tercatat sudah berdiri sekitar 2.171 lembaga PAUD.

Miskin Kreativitas

artikel0703034.gifKesejahteraan yang rendah ternyata membawa dampak negatif pada banyak hal. Sebut saja kreativitas guru.

Kini cukup santer keluhan bahwa pengajar PAUD di daerah ini miskin kreativitas. Kenyataan inilah yang menjadi kendala program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Jawa Tengah. Akibatnya tentu bisa diduga: program PAUD belum terpacu.

Kendala itu terrutama dijumpai di desa-desa. Cukup banyak pengjajar yang mengalami krisis kreativitas. Padahal di sana, potensi anak usia dininya tinggi.

Kondisi yang memilukan,” ujar Ketua Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia (Himpaudi) Jawa Tengah, Nila Kusumaningtyas. Namun, katanya betapa pun kondisinya demikian, tapi tapi harus tetap disemangati. Pasalnya PAUD merupakan program nasional yang sangat strategis, khususnya dalam pembangun SDM berkualitas di masa depan.

Karena miskin kreativitas itulah para tenaga pengajar pun sering terjebak pada pola pembelajaran klasikal. Artinya pengajar cenderung menempuh jalan pintas dengan menekan anak agar bisa selekasnya menguasai calistung (baca, tulis, dan berhitung).

Padahal cara semacam itu dapat mengekang atau bahkan menjerumuskan anak. Kata Nila, dengan pola klasikal, anak-anak cenderung mengalami kebosanan atau kejenuhan dalam belajar manakala mereka kelak sudah duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar (SD).

Mengubah pola klasikal dalam pembelajaran di lembaga PAUD memang tidak gampang. Karena itu, untuk memacu kreativitas di kalangan pengajar, pihaknya kini rutin menggelar program-program pelatihan bekerja sama dengan masing-masing pemkab/pemkot se- Jateng.

Pelatihan seperti ini sudah sangat mendesak, mengingat kebanyakan tenaga pengajar di lembaga PAUD hanya berijazah SMA, kata dia.

Tentu saja kelemahan pengajar tersebut bisa ditimpakan semuanya pada mereka program tersebut lambat karena tingkat kesejahteraan para pengajarnya masih di bawah standar. Kondisi ini diperburuk dengan belum adanya wadah yang secara spesifik memberikan perlindungan dan pembinaan bagi tenaga pendidik PAUD jalur pendidikan nonformal (PNF).

Penulis: wartaplus

BERITA PAUD

sumber: http://www.radarbanten.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=42880

Insentif Tenaga Pendidik PAUD Belum Cair
By redaksi
Jumat, 12-Juni-2009, 07:47:00 53 clicks Send this story to a friend Printable Version
SERANG – Dana insentif dari pemerintah pusat yang akan diberikan kepada 309 dari 524 tenaga pendidik untuk Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Kota Serang belum cair. Dana insentif ini Rp 1,2 juta per tahun per orang.

Ketua Himpunan Pendidikan Anak Usia Dini (Himpaudi) Kota Serang Imas Farida mengatakan, tahun ini pihaknya mengajukan 309 tenaga pendidik PAUD ke pemerintah pusat untuk mendapatkan dana insentif. “Tapi sampai sekarang, dana tersebut belum cair. Dana intensif itu dari pemerintah pusat. Sedangkan dana dari Pemkot Serang belum ada,” ulas Imas di sela-sela acara Pelepasan Anak Didik PAUD tahun ajaran 2008/2009 se Kota Serang di lobi Puspemkot Serang, Kamis (11/6) pagi.
Pelepasan sekitar 1.300 anak didik dari 96 lembaga pendidikan PAUD di Kota Serang itu juga dihadiri Walikota Serang Bunyamin beserta istrinya, Dharmawati. Selain itu, Asda III Pemkot Serang Mulyana, Kepala Dinas Pendidikan Kota Serang Hafidi ZA, Pembina PAUD Kota Serang Ade Rossi Chaerunissa, serta perwakilan dari Dinas Kesehatan Kota Serang dan Badan Pemberdayaan Masyarakat Perempuan dan Keluarga Berencana Kota Serang.
Saat ini, tenaga pendidik PAUD hanya menerima honor dari lembaga PAUD tempat mengajar. Besar honornya berbeda, tergantung dari lembaga PAUD yang bersangkutan. “Saya berharap para tenaga pendidik PAUD dapat ikhlas menjalankan tugas mereka tanpa melihat honor,” tuturnya.
Ia mengatakan, minat orang tua untuk menyekolahkan anak mereka di PAUD semakin meningkat. Hal itu dapat terlihat dari bertambahnya jumlah lembaga PAUD di Kota Serang yang tadinya 62 lembaga menjadi 139 lembaga. Biaya pendidikan PAUD juga berbeda-beda tergantung dari letak daerah.
Kata dia, jika anak usia 1 sampai 5 tahun tidak diikutsertakan dalam PAUD karena menurutnya usia tersebut adalah masa yang disebut dengan masa golden age yaitu masa-masa mencontoh dan mencerna, “Sayang sekali jika anak usia golden age ini tidak ikut PAUD,” tambahnya.
Pada kesempatan itu, Bunyamin mengatakan, PAUD sangat penting bagi masa depan anak. Hal itu merupakan tanggung jawab pemerintah, masyarakat dan orang tua. “Mari kita sepakati untuk mewujudkan anak yang sehat, cerdas dan berkepribadian baik. Jangan sayang melakukan sesuatu untuk anak,” lanjutnya.
Kata dia, yang tidak kalah penting, anak yang berusia di bawah lima tahun seharusnya diberikan pendidikan, pengetahuan dan pembinaan.
Beberapa prosesi dilakukan seperti proses pemberian ikatan bunga dan pengalungan bunga oleh peserta didik kepada Bunyamin, disusul dengan penampilan tari, marchingband, dan foto bersama. (cr-2)

sumber: http://www.malangpostnews.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=4837:paud-digerojok-dana-pembinaan&catid=47:agropolitan&Itemid=75

PAUD Digerojok Dana Pembinaan
Wednesday, 17 June 2009 12:07
BATU-Pengajar dan lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Kota Batu semakin diperhatikan. Bulan depan, anggaran pembinaan kelembagaan PAUD sebesar Rp 5 juta per lembaga dicairkan. Sedangkan alokasi anggaran peningkatan mutu guru PAUD sejumlah Rp 100 juta sudah siap cair.
Kepala Bidang Pendidikan Non Formal, Dinas Pendidikan, Mariaji menjelaskan, dana pembinaan kelembagaan PAUD sebesar Rp 5 juta dianggarkan oleh APBD Provinsi Jawa Timur. Anggaran penguatan lembaga itu digunakan untuk pengadaan berbagai sarana penunjang. Seperti alat permainan edukasi hingga perbaikan administrasi lembaga PAUD.
“Dari 89 lembaga PAUD di Kota Batu, tahun ini terdapat 28 lembaga PAUD yang mendapat bantuan penguatan lembaga. Bulan Juli depan, dananya sudah bisa dicairkan,’’ jelasnya disela-sela pelantikan Forum Pemerhati Pendidikan Anak Usia Dini dan pengurus Himpaudi Kota Batu di Bina Praja, kemarin.
Dipaparkan, bantuan dana penguatan lembaga itu diberikan secara bergiliran kepada semua lembaga PAUD yang ada di Kota Batu.Bila Pemprov Jatim memberi bantuan dana penguatan lembaga, Pemkot Batu mengalokasikan anggaran peningkatan mutu guru PAUD. Tahun ini, melalui APBD Kota Batu, dialokasikan anggaran sebesar Rp 100 juta untuk peningkatan mutu guru.
“Bentuk peningkatan mutu guru seperti pelatihan dan berbagai kursus-kursus yang diberikan kepada guru PAUD. Alokasi anggarannya sudah ada dan menunggu usulan kegiatan,” paparnya. Saat ini dari 89 PAUD di Kota Batu, terdapat 297 guru. Jumlah peserta didik yang belajar di PAUD sebanyak 1800 murid. Mereka terdiri dari anak usia dua hingga empat tahun.
Sementara itu, Wali Kota Batu Eddy Rumpoko melantik pengurus Forum Pemerhati, Pendidikan Anak Usia Dini Kota Batu periode tahun 2009-2013, kemarin. Forum ini diketuai Ketua TP PKK, Dewanti Rumpoko. Bersamaan itu dilantik pula pengurus Himpunan Pendidik Anak Usia Dini (Himpaudi) periode 2009-2013 dengan ketuanya Taufik Abdul Rauf. (van/nug)