Artikel Serial Ramadhan (25)

I’TIKAF RAMADHAN

1. Ibadah Pengendali & Penyejuk Hati

Memang benar, setiap jiwa ditanamkan kecintaan kepada duniawi, kita Semua merasakan itu. Maka, wajar kalau kita cinta kepada istri-istri kita, anak-anak, harta kekayaan leimpah, emas, perak, rumah tinggal, kendaraan mewah. Namun, lebih banar dan lebih wajar lagi kalau kecintaan tersebut dibatasi rambu-rambu dan keteraturan. Karena jika tidak demikian, akan terjadi malapetaka bagi kita semua, bahkan bagi kehidupan itu sendiri.

Manusia adalah makhluk serakah, makhluk yang tak kenal lelah dalam Mencari harta dunia. Ia makhluk yang suka bersaing, memiliki dorongan syahwat yang kuat terhadap keinginan dirinya. Karenanya, jika manusia dibiarkan dalam kebebasan tanpa rambu dan batas-batas hidup, kehancuran dan kebinasaan yang akan dialaminya.

Allah swt. tahu itu semua, karena Dia yang mencipta, Dia pula yang memberikan kebutuhan hidup baik moril maupun materil. Dia yang mengatur stabilitas kehidupan, juga yang selalu mengawasi, membantu manusia dalam menjalankan misi hidupnya. Oleh karena itu semua, Allah swt. sangat tahu akibat jauhnya manusia dari aturan dan rambu-rambu kehidupan.

Diantara rambu dan aturan kehidupan untuk manusia adalah syariat Allah berupa akidah, ibadah, dan muamalah. Karenanya, ibadah-ibadah dalam Islam diperuntukkan menjaga diri manusia dari ketertipuan duniawi, ibadah yang berkonotasi taqorrub kepada Allah agar dapat memelihara hati manusia dari bencana yang dapat menimpa dirinya. Sebab, jika hati manusia baik dan terarah, maka amal perbuatannya pun akan baik dan terarah.

Firman Allah swt., “Sungguh beruntung orang yang membersihkan Jiwanya (tazkiyah an-nafs) dan merugi orang yang mengotorinya” (QS adz-Dzariyat: 9-10).

Rasulullah saw. menjelaskan isyarat itu dalam sabdanya,

“Ketahuilah bahwa dalam jasad ada segumpal daging, jika ia baik maka seluruh jasad menjadi baik, tetapi jika ia rusak maka seluruh jasad akan menjadi rusak, ketahuilah segumpal daging itu adalah hati”. (HR. Bukhari Muslim).

Diantara ibadah pengarah dan pengendali hidup dan kehidupan manusia adalah i’tikaf. Yaitu menetap di dalam mesjid dengan niat taqarrub kepada Allah, dengan melakukan amal-amal ubudiyah. I’tikaf merupakan ibadah yang sangat dianjurkan dalam Islam.

Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Yang saya ketahui, bahwa tidak seorang pun dari ulama yang tidak men-sunnahkan (mengatakan hukumnya sunnah).”

Imam Malik juga mengatakan, “Saya cermati dan analisa (dalil-dalil) I’tikaf. Kenapa kaum muslimin banyak yang meninggalkan ibadah ini, padahal Rasulullah saw. tidak pernah meninggalkannya (di bulan Ramadhan)”.

Imam Az-Zuhri rahimahullah menyayangkan kalau sebagian kaum muslimin meninggalkan ibadah sunnah ini, padahal Nabi Muhammad saw. sejak datang ke Madinah tidak pernah meninggalkan ibadah ini sampai akhir hayatnya.

Rasulullah saw. selalu menghidupkan ibadah i’tikaf, karena beliau memahami fadhilah (keutamaannya) dan merasakan kesejukkan hati. Memang, i’tikaf ini merupakan ibadah yang mampu mengarahkan kecenderungan cinta dunia yang dimiliki manusia. I’tikaf juga mampu mengingatkan gemerlapan harta kekayaan agar tidak menjerumuskan. I’tikaf terbukti mampu menuntun manusia untuk menjauhkan diri dari godaan teman-teman hidup yang selalu mengajak manusia ke jalan kehancuran dan malapetaka. Manusia akan aman dan tentram dari berbagai tipu muslihat ‘syetan’ kehidupan. Secara khusus, Rasulullah melakukan i’tikaf pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan, sebagaimana yang diriwayatkan Aisyah ra., bahwa Nabi saw. selalu i’tikaf pada 10 malam terakhir di bulan Ramadhan sampai beliau wafat. Kemudian, sunnah i’tikaf ini dilanjutkan oleh para istri beliau (HR Bukhari dan Muslim).

Sedangkan pada tahun wafatnya, Nabi melakukan i’tikaf di bulan Ramadhan selama 20 hari (10 malam kedua dan terakhir dari Ramadhan), sebagaimana diriwyatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim. Hal itu dilakukan karena beberapa faktor:

1. Malaikat Jibril mengajarkan Nabi Al-Qur’an pada tahun wafatnya sebanyak 2 kali, maka sesuai dengan bilangan 20 hari. Sebab pada setiap tahun biasanya malaikat Jibril hanya 1 kali mengajarkan beliau Al-Qur’an.

2. Nabi ingin meningkatkan amal sholihnya karena perasaannya akan Kedekatan ajalnya dengan turun ayat-ayat surat an-Nashr. Beliau memahami ayat-ayat tersebut sebagai perintah Allah untuk memperbanyak bertasbih dan istigfar karena dekatnya ajal beliau. Demikianlah Nabi memanjangkan ruku dan sujudnya seraya membaca do’a: “subhaanakallohumma, wabihamdika, Alloohummagfir lii”, artinya: “Mahasuci Engkau ya Allah, puji-pujian bagiMu, ampunilah aku ya Allah” (diriwayatkan Bukhari Muslim).

3. Nabi melakukan i’tikaf 20 hari pada saat itu, sebagai pengungkapan rasa syukur kepada Allah swt., atas karunia dan taufik-Nya dalam menunaikan kebajikan dalam kehidupan, seperti kemampuan berjihad, kesempatan mengajar, melaksanakan shaum, qiyam, menurunkan al-Qur’an, dan sebagainya.

Allahu Akbar, itulah teladan kita, senantiasa menyadari bahwa usia Panjang yang dikaruniakan Allah handaknya dimanfaatkan untuk kebaikan-kebaikan. Sebab, apa artinya umur panjang jika penuh dengan noda maksiat kepada Allah swt.

Suatu keteladanan prima dari seorang Rasul dan seorang anak manusia Pilihan Allah. Ketinggian dan kemuliaan diri yang disandangnya tidak membuat Dirinya lupa. Bahkan, semakin tinggi dan mulia, semakin ia buktikan syukurnya dan sikap serta perilaku tunduk dan taatnya, yang dicontohkan dengan bertasbih dan istigfar. Yang mengindikasikan bahwa ketinggian dan kemuliaan dirinya bukan semata-mata karena dirinya, tapi semua itu karena ke-Maha-Kuasa-an dan Kehebaatan Allah swt.

Saat i’tikaf, seseorang hendaknya membersihkan pakaian dan tempat ibadahnya, seperti yang diisyaratkan Rasulullah ketika i’tikaf di mesjid, beliau mengeluarkan kepalanya ke hujrah (bilik rumah) Aisyah ra., seraya Aisyah yang sedang haidh itu membersihkan rambut Rasul dan merapikannya, seperti yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim.

Dalam i’tikaf, dianjurkan pula untuk melakukan kegiatan-kegiatan Taqarrub lainnya, seperti tilawah Al-Qur’an, mempelajari hadits Nabi saw., membaca buku-buku Islam, mendengarkan nasehat dan arahan agama, tasmi’ (mendengarkan bacaan Al-Qur’an) dan kegiatan lain yang positif yang tidak membatalkan i’tikaf dan tidak mengurangi nilai kekhusyuan ibadah di mesjid.

Penulis melihat adanya hal-hal yang ‘ganjil’ dalam masalah i’tikaf,
sekaligus merupakan kekeliruan persepsi, antara lain:

1. Sebagian orang menyangka bahwa i’tikaf itu hanya berlaku di 3 mesjid saja yakni: mesjid Nabawi, mesjid Al-Aqsha dan mesjid Al-Haram di Mekkah. Padahal, Allah swt. Berfirman,: “dan janganlah kamu gauli (istri-istrimu) selama engkau I’tikaf di mesjid-mesjid” (QS. Al-Baqarah: 187).

Lafal “Al-Masajid” (di mesjid-mesjid) berarti dibolehkan di mesjid manapun. Namun, dianjurkan melakukan i’tikaf di mesjid jami’ (bukan musholla). Sedangkan hadits: “La i’tikaafa illaa fil-masaajid ats-tsalaatsah” (tidak ada i’tikaf selain di mesjid yang tiga) seperti yang diriwayatkan imam Ath-Thahawi dalam bukunya “Misykatul Atsar 4/20” sekiranya hadits Ini shahih, ini dapat diartikan sebagai keutamaan i’tikaf di 3 mesjid ini, karena keutamaan 3 mesjid ini dari yang lainnya, tidak berarti i’tikaf hanya disyariatkan di tiga mesjid ini saja.

2. Mispersepsi yang lain adalah anggapan i’tikaf sebagai peluang Bertemu handai taulan, sehingga ada kecenderungan i’tikaf dijadikan ajang ‘ngobrol’ dengan teman-teman yang jarang bertemu. I’tikaf berjamaah dibolehkan, bersama keluarga, teman atau famili sekalipun, namun pertemuan saat i’tikaf tidak boleh dijadikan saat ‘kangen-kangenan’, sehingga membuat gaduh mesjid dan bahkan sangat mungkin mengganggu yang lain. Imam Ibnu Qoyyim ketika melihat gejala i’tikaf seperti ini mengatakan, “Ini adalah satu warna (i’tikaf) yang sangat berbeda dengan i’tikaf Rasulullah saw.” (Zaadul Ma’ad 2/90).

3. Ada kekeliruan lain tentang i’tikaf. Sebagian orang meninggalkan Tugas dan kewajibannya di tempat kerja atau mengindahkan amanat dari Seseorang lantaran ingin melakukan i’tikaf. Sangat tidak adil dan tidak bijak seseorang meninggalkan yang wajib untuk melakukan yang sunnah.

Semoga Allah swt. memberikan taufik dan kemudahan kepada kita yang berminat
dan berupaya mengamalkan sunnah-sunnah Rasulullah saw., sebagai tambahan
amalan kebajikan kita dan pemberat timbangan amal shalih di Akhirat kelak.
Allah swt. Berfirman,

“dan berbuatlah, sesungguhnya Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman akan melihat amal kalian. Kemudian kalian akan dikembalikan kepada Yang Maha Tahu yang nampak dan tidak nampak, lalu meminta pertanggungjawaban amal perbuatan kalian” (QS. At-Taubah: 105).

Allahu A’lam Bish-showab.

Sumber:
30 Tadabbur Ramadhan, MENJADI HAMBA ROBBANI, Meraih Keberkahan Bulan
Suci

Penulis:
Dr. Achmad Satori Ismail, Dr. M. Idris Abdul Shomad, MA
Samson Rahman, Tajuddin, MA, H. Harjani Hefni, MA
A. Kusyairi Suhail, MA, Drs. Ahlul Irfan, MM, Dr. Jamal Muhammad,
Sp.THT

Source: IKADI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s