Category Archives: Playgroup

DRAFT STANDAR KOMPETENSI PENGELOLA PAUD

Bongkar2 Hardisk nemu “dokumen” lama, walaupun masih draft lumayan buat panduan.

====================
Standar Kompetensi
PENGELOLA PAUD

DIREKTORAT PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN NONFORMAL
DIREKTORAL JENDERAL PENINGKATAN MUTU PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN
DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
2007

A. LATAR BELAKANG
Dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) disebutkan bahwa pendidikan nonformal (PNF) berfungsi sebagai pelengkap (complement), pengganti (substitute), dan penambah (suplement) pendidikan formal. Berbagai program yang telah dikembangkan dalam jalur pendidikan non formal saat ini diantaranya: program Keaksaraan, Kesetaraan (Paket A setara Sekolah Dasar, Paket B setara Sekolah Menengah Pertama, dan Paket C setara Sekolah Lanjutan Atas), Pendidikan Kursus, Pendidikan Life Skill, dan Pendidikan Anak Usia Dini. Setiap program yang dipaparkan di atas memerlukan pendidik maupun tenaga kependidikan yang memiliki kompetensi yang sesuai dengan program yang dikembangkan.

Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) dijabarkan bahwa tenaga kependidikan dituntut memiliki kompetensi yang mencakup kompetensi pedagogis, kepribadian, sosial dan profesional. Kompetensi tersebut diharapkan dimiliki oleh seluruh tenaga pengelola lembaga pendidikan luar sekolah termasuk pengelola program Pendidikan Anak Usia Dini. Pengelola yang memenuhi kompetensi tersebut diharapkan akan memenuhi legalitas kualifikasi sebagai tenaga pengelola program PAUD yang profesional.

Jumlah pengelola PAUD yang tercatat hingga tahun …. sebanyak …. orang, dengan rincian …. orang tenaga pengelola Kelompok Bermain, …. orang pengelola Taman Penitipan Anak, dan …. orang pengelola Lembaga Satuan PAUD Sejenis. Dari jumlah tersebut yang sudah mendapatkan pelatihan tenaga kependidikan baru tercatat sebanyak …. orang. Dengan demikian sebagian besar dari tenaga pengelola PAUD yang ada belum mendapatkan pelatihan dan pendidikan yang mendukung tugas profesinya. Kenyataan lain di lapangan bahwa pengelola PAUD memiliki latar belakang pendidikan, pengalaman kerja, dan jenjang pendidikan sangat beragam. Dengan demikian belum semua pengelola PAUD yang ada telah memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan dalam PP no. 19 di atas.

Implikasi dari kondisi di atas pengelolaan dan layanan PAUD terhadap sasaran belum dapat berjalan sesuai dengan ketentuan layanan pendidikan anak usia dini. Hal ini disebabkan karena sampai saat ini belum ada standar kompetensi pengelola PAUD yang baku. Berkaitan dengan hal tersebut penting untuk segera menyusun Standar Kompetensi Tenaga Kependidikan atau Pengelola Lembaga PAUD.

Standar Kompetensi Tenaga Kependidikan atau Pengelola Lembaga PAUD selayaknya dirumuskan bersama oleh berbagai unsur yang mencakup: Direktorat PAUD, Dit. PTK-PNF, BSNP, Himpaudi, Pengelola, Akademisi, dan stake holder. Rumusan yang telah dihasilkan oleh unsur-unsur tersebut menjadi masukan untuk BSNP dan BNSP ditetapkan menjadi standar baku.

Berdasarkan pemikiran seperti diuraikan di atas, maka pada tahun anggaran 2007 Direktorat PTK-PNF menetapkan program rintisan sertifikasi bagi PTK-PNF yang dimulai dengan kegiatan penyusunan bahan masukan untuk penetapan standar kompetensi PTK-PNF, khususnya untuk tenaga kependidikan PNF yang berstatus sebagai Pengelola Satuan Pendidikan Anak Usia Dini.

B. DASAR HUKUM
1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
2. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan
3. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 1992 tentang Tenaga Kependidikan
4. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 1994 tentang Jabatan Fungsional Pegawai Negeri Sipil
5. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 1992 tentang Peran Serta Masyarakat Dalam Pendidikan Nasional
6. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 8 Tahun 2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan.

C. TUJUAN DAN MANFAAT STANDAR KOMPETENSI BAGI PENGELOLA SATUAN PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
1. Tujuan
a. Menetapkan standar kompetensi/kemampuan dasar Pengelola Satuan Pendidikan Anak Usia Dini sesuai dengan PP 19 tahun 2005.
b. Menyediakan acuan dalam pembinaan dan peningkatan mutu Pengelola Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini

2. Manfaat
a. Sebagai Acuan pelaksanaan uji kompetensi Pengelola Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini
b. Sebagai dasar pertimbangan dalam penilaian kinerja Pengelola Satuan Pendidikan Anak Usia Dini
c. Acuan penetapan kebijakan peningkatan mutu bagi Pengelola Satuan Pendidikan Anak Usia Dini
d. Acuan dalam merancang pengembangan kurikulum pendidikan/ pelatihan untuk peningkatan kompetensi Pengelola Satuan Pendidikan Anak usia Dini

D. RUANG LINGKUP
1. Struktur sajian standar kompetensi Pengelola PAUD mencakup latar belakang, dasar hukum, tujuan dan manfaat, pengertian, kualifikasi, dan standar kompetensi.
2. Substansi standar kompetensi Pengelola PAUD mencakup kompetensi paedagogis, kepribadian, sosial, dan profesional.

E. PENGERTIAN
1. Standar
Standar adalah acuan umum yang mengikat unsur-unsur yang terlibat dalam penyeleksian calon pengelola, peningkatan kemampuan pengelola, dan pengelola lembaga PAUD.

2. Kompetensi
Kompetensi adalah seperangkat kemampuan dasar yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas dibidang pengelolaan Lembaga PAUD.

3. Standar Kompetensi Pengelola Pendidikan Anak Usia Dini
Adalah acuan umum berisi seperangkat kemampuan dasar yang harus dimiliki pengelola PAUD dan mengikat unsur-unsur yang terlibat dalam penyeleksian calon pengelola, peningkatan kemampuan pengelola, dan pengelolaan lembaga PAUD.

4. Kualifikasi
Adalah persyaratan minimum yang harus dipenuhi oleh Pengelola PAUD untuk melakukan tugas pokok dan fungsi secara efektif dan efisien.

5. Kualifikasi Akademik
Adalah tingkat pendidikan minimum yang harus dimiliki Pengelola PAUD sesuai dengan standar yang ditetapkan.

6. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)
Adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak usia lahir sampai usia 6 tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Pendidikan anak usia dini pada jalur Pendidikan Non-Formal meliputi Taman Penitipan Anak (TPA), Kelompok Bermain (KB), dan Satuan Paud Sejenis (SPS).

7. Taman Penitipan Anak (TPA)
Adalah salah satu bentuk PAUD pada jalur pendidikan non formal sebagai wahana kesejahteraan yang berfungsi sebagai pengganti keluarga untuk jangka waktu tertentu bagi anak yang orang tuanya bekerja.

8. Kelompok Bermain (KB)
Adalah salah satu bentuk PAUD pada jalur pendidikan non formal yang menyelenggrakan program pendidikan sekaligus program kesejahteraan bagi anak sejak lahir sampai dengan 6 tahun (dengan priorias anak usia 2-4 tahun).

9. Satuan PAUD Sejenis (SPS)
Adalah salah satu bentuk PAUD pada jalur pendidikan nonformal yang dapat dilaksanakan secara terintegrasi dengan berbagai program layanan anak usia dini yang telah ada di masyarakat (seperti Pos Yandu, Bina Keluarga Balita, Taman Pendidikan Al Quran, Taman Pendidikan anak Sholeh, Sekolah Minggu dan Bina Iman). (Direktorat PAUD, 2006).

10.Pengelola Satuan Pendidikan Anak Usia Dini
Adalah seseorang yang memiliki kualifikasi dan kompetensi yang telah ditentukan untuk bertanggung jawab secara keseluruhan atas pengelolaan satuan pendidikan anak usia dini di Taman Penitipan Anak, Kelompok Bermain, atau Satuan PAUD Sejenis.

F. PERSYARATAN
1. Persyaratan Umum
a. Diutamakan memiliki kualifikasi akademik sarjana (S1) atau diploma empat (D-IV) kependidikan atau nonkependidikan pada perguruan tinggi yang terakreditasi dan serendah-rendahnya SLTA
b. Sehat jasmani dan rohani
c. Memiliki pengalaman sebagai pendidik atau anggota pengelola satuan pendidikan anak usia dini sekurang-kurangnya 3 (tiga) tahun

2. Persyaratan Khusus
a. Pengelola Taman Penitipan Anak (TPA)
1. Berstatus sebagai Pengelola TPA
2. Telah mendapatkan pendidikan atau pelatihan yang terkait dengan tugas dan fungsi pengelola TPA
3. Memiliki sertifikat sebagai Pengelola TPA yang diterbitkan oleh lembaga yang ditetapkan Pemerintah.

b. Pengelola Kelompok Bermain (KB)
1. Berstatus sebagai Pengelola KB
2. Telah mendapatkan pendidikan atau pelatihan yang terkait dengan tugas dan fungsi pengelola KB
3. Memiliki sertifikat sebagai Pengelola KB yang diterbitkan oleh lembaga yang ditetapkan Pemerintah.

c. Pengelola Satuan PAUD Sejenis (SPS)
1. Berstatus sebagai Pengelola SPS
2. Telah mendapatkan pendidikan atau pelatihan yang terkait dengan tugas dan fungsi pengelola SPS
3. Memiliki sertifikat sebagai Pengelola SPS yang diterbitkan oleh lembaga yang ditetapkan Pemerintah.

G. STANDAR KOMPETENSI PENGELOLA PENDIDIKAN ANAK USIA DINI (TPA, KB, SPS)

DIMENSI KOMPETENSI : KEPRIBADIAN
No KOMPETENSI INTI KOMPETENSI INDIKATOR
1.
Berpenampilan diri sebagai pribadi yang berakhlak mulia 1.1 Menunjukkan perilaku yang sesuai dengan norma agama 1. beribadah sesuai dengan agama masing-masing
2. Toleran dalam beragama
1.2 Menunjukkan budi pekerti yang luhur 1. rendah hati
2. menepati janji
3. dapat dipercaya
4. jujur
5. sopan santun
6. menerima pendapat orang lain secara santun
7 menghargai sesama
2. Bertindak sesuai dengan norma hukum, sosial, dan kebudayaan nasional Menunjukkan sikap sesuai dengan norma hukum dan sosial dalam masyarakat serta kebudayaan nasional 1. mentaati peraturan perundang-undangan
2. mentaati tata tertib
3. bertindak sesuai dengan kearifan lokal
3. Berpenampilan sebagai pribadi yang mantap, stabil, dan dewasa 3.1 Menunjukkan perilaku sebagai pribadi yang mantap 1. bertindak konsisten
2. percaya diri
3.2 Menunjukkan perilaku sebagai pribadi yang dewasa, arif dan berwibawa 1. memahami/mengerti keadaan orang lain
2. bertindak tidak memihak
3.3 Menunjukkan perilaku yang dapat mengendalikan diri 1. dapat mengendalikan emosi
2. dapat memaafkan kesalahan orang lain
4. Pemilikan etos kerja, tanggung jawab, rasa bangga dan rasa percaya diri 4.1 Menunjukkan etos kerja dan tanggungjawab yang tinggi
4.3 Mengerjakan pekerjaan secara mandiri
4.4 Mengaktualisasikan diri sebagai pengelola 1. tanggung jawab terhadap pekerjaan
2. Disiplin kerja
3. semangat kerja
4. tidak tergantung orang lain
5. berorientasi pada hasil
6. bekerja keras
7. kerja dengan cerdas
8. kesungguhan dalam bekerja
5. Pemilikan kode etik profesi 5.1 Memahami kode etik profesi 1. memahami rambu-rambu yang tertuang dalam kode etik profesi
2. menghargai profesi lain
5.2 Menerapkan dan menjaga kode etik profesi 1. bertindak sesuai kode etik profesi
2. menjunjung tinggi kode etik profesi
3. menjaga kekompakan profesi

DIMENSI KOMPETENSI : SOSIAL
No KOMPETENSI INTI KOMPETENSI INDIKATOR
1.
Komunikasi yang efektif, empatik, dan santun Berkomunikasi dengan orang lain secara efektif 1. memahami strategi komunikasi secara efektif (mendengarkan, berbicara, menulis, dan non verbal)
2. menjadi pendengar yang baik
3. dapat menyampaikan ide atau gagasan
4. berbicara secara sistematis dan lugas
2. Partisipatif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan 1. Menyesuaikan diri dengan lingkungan 1. dapat menyesuaikan diri dengan masyarakat
2. dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja
3. dapat menyesuaikan diri dengan komunitas profesi
4. peka terhadap masalah sosial
5. menghargai perbedaan
2. Berpartisipasi dalam memecahkan masalah-masalah yang ada di lingkungan masyarakat 1. aktif dalam kegiatan kemasyarakatan
2. memprakarsai kegiatan kemasyarakatan

DIMENSI KOMPETENSI : MANAJERIAL
No KOMPETENSI INTI KOMPETENSI PAUD INDIKATOR PAUD
1. Perencanaan program 1.1 Mengidentifikasi kebutuhan lembaga 1. Memahami substansi program dan anak usia dini
2. Memahami dasar-dasar kebijakan program
3. Menganalisis kebutuhan penyelenggaraan program
4. Menyusun program penyelenggaraan kegiatan untuk anak dan orang tua
5. Menyusun instrumen pendataan
6. Mengumpulkan data
7. Mengolah dan menganalisis data
8. Membuat daftar kebutuhan lembaga
1.2 Menentukan skala prioritas kebutuhan lembaga 1. Menelaah potensi sumber daya lembaga dan lingkungan untuk menetapkan skala prioritas
2. Mengurutkan kegiatan berdasarkan skala prioritas
1.3 Menyusun rencana strategik lembaga 1. Membuat analisis kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman lembaga
2. Mengembangkan visi, misi, dan tujuan lembaga
3. Mengembangkan program jangka panjang, menengah dan pendek
1.4 Menyusun rencana operasional 1. Membuat rencana kegiatan, jadwal, biaya, ketenagaan, dan peralatan
2. Mengembangkan prosedur kerja
3. Menetapkan kriteria keberhasilan
4. Mengikut sertakan secara aktif orang tua dalam penyelenggaraan program
2. Pengorganisasian sumber daya lembaga 2.1 Rekrutmen sumber daya sesuai dengan kebutuhan 1. Menyiapkan perangkat dan persyaratan rekruitmen
2. Melaksanakan rekruitmen
2.2 Mengembangkan jabatan kerja 1. Mendistribusikan sumber daya manusia berdasarkan pada kualifikasi dan kompetensinya
2. Mengembangkan kompetensi
3. Melakukan penilaian kinerja
4. Mengembangkan sistem imbalan dan ganjaran
2.3 Pengadaan dan pemanfaatan sarana dan prasarana secara optimal 1. Memahami prinsip-prinsip pengaturan sarana prasarana
2. Mengelola alat permainan edukatif (APE)
3. Menangalisis kebutuhan sarana dan prasarana
4. Mengadakan dan sarana prasarana
5. Mengatur pemanfaatan dan perawatan
2.4 Memanfaatkan dana secara efisien dan efektif 1. Memahami prinsip-prinsip pengelolaan keuangan
2. Mencari sumber dana
3. Mengelola keuangan secara transparan, efisien dan efektif
3. Pengarahan pelaksanaan program lembaga 3.1 Mengoptimalkan pelaksanaan program lembaga 1. Membangun tim kerja
2. Memotivasi sumber daya manusia lembaga
3. Meningkatkan efisiensi dan efektivitas pengelolaan
4. Mewujudkan iklim kerja yang kondusif
3.2 Mengadministrasikan kegiatan lembaga 1. Menyelenggarakan ketatausahaan lembaga
2. Mengembangkan petunjuk teknis kerja
3.3 Mengarahkan pengembangan dan penerapan kurikulum untuk setiap program pendidikan PNF 1. Mengkoordinir penyusunan rancangan pembelajaran (media, metode, bahan belajar)
2. Mengkoordinir pelaksanaan pembelajaran
3. Mengkoordinir evaluasi pembelajaran
4. Pengendalian pelaksanaan program lembaga 4.1 Melaksanakan monitoring program 1. Mengembangkan mekanisme monitoring
2. Mengembangkan perangkat dan menentukan para petugas monitoring
3. Menetapkan jadwal monitoring
4. Melaksanakan monitoring
4.2 Melaksanakan supervisi 1. Memahami prinsip-prinsip supervisi
2. Mengembangkan mekanisme pembinaan
3. Membimbing dan membina ketenagaan

5. Evaluasi pelaksanaan program lembaga 5.1 Melaksanakan evaluasi program lembaga 1. Memahami prinsip dan teknik evaluasi
2. Menyusun perangkat evaluasi
3. Mengevaluasi, mengolah,dan menganalisis program lembaga
4. Menindaklanjuti hasil evaluasi
5.2 Melaksanakan pelaporan 1. Memahami substansi laporan
2. Menyusun laporan untuk berbagai keperluan
3. Mendistribusikan laporan kepada pemangku kepentingan
4. Menyusun rekomendasi untuk perbaikan dan pengembangan program lembaga

DIMENSI KOMPETENSI : SIKAP KEWIRAUSAHAAN
No KOMPETENSI INTI KOMPETENSI INDIKATOR
1. Pengolahan Resiko Menunjukkan perilaku berani mengolah resiko 1. Berani mengambil keputusan
2. Bertanggungjawab terhadap keputusan yang diambil
3. Optimis terhadap keberhasilan dari keputusan yang diambil
2. Pelayanan yang memuaskan Menunjukan perilaku yang dapat memuaskan pelanggan 1. Mendahulukan kepentingan pelanggan
2. Memfasilitasi kebutuhan pelanggan
3. Pemanfaatan waktu secara efektif dan efisien Menunjukkan perilaku yang dapat mengelola waktu dengan efektif dan efisien 1. Menyelesaikan pekerjaan tepat waktu
2. Memanfaatkan waktu secara produktif
4. Pengembangan kemitraan dengan pihak terkait Menunjukkan perilaku yang dapat mengembangkan jaringan usaha 1. Membangun kerjasama dengan mitra kerja
2. Meyakinkan mitra kerja
3. Mengoptimakan capaian nilai tambah dengan mitra kerja
5. Inovatif mengembangkan keunggulan program lembaga Menunjukkan perilaku yang dapat mengembangkan keunggulan lembaga
1. Memanfaatkan peluang pasar untuk keberhasilan usaha
2. Memasarkan keunggulan program lembaga ke masyarakat
3. Berkompetisi secara sehat untuk memperoleh keunggulan

H. PENUTUP
Pengelola PAUD berperan penting dalam memberikan layanan program PAUD yang berkualitas. Untuk menunjang pelayanan yang berkualitas perlu didukung oleh kompetensi dan kualifikasi. Kompetensi dan kualifikasi yang diharapkan dari Pengelola PAUD hendaknya bersifat umum, mendasar, serta dapat dijadikan rujukan dalam kegiatan penyeleksian tenaga Pengelola, peningkatakan kualitas kinerja, dan pengelolaan Lembaga PAUD yang berkualitas.

Berkenaan dengan hal tersebut perlu dirumuskan standar kompetensi dan kualifikasi pengelola PAUD. Standar kompetensi Pengelola PAUD seharusnya merujuk pada Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Rumusan standar kompetensi Pengelola PAUD yang disusun ini sebagai masukan Lembaga yang berwewenang untuk menetapkan dan menguji kompetensi Pengelola PAUD.

Standar Kompetensi ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi penyusunan kebijakan pemerintah dalam meningkatkan kualitas kinerja dan kesejahteraan Pengelola PAUD. Dengan standar kompetensi ini pengelola mengetahui kemampuan yang harus dimiliki dalam melaksanakan tugas dan fungsinya. Standar kompetensi dapat dijadikan sebagai instrumen bagi masyarakat untuk mengontrol akuntabilitas kinerja, dan pencitraan publik pengelola PAUD.

Terkait dengan hal tersebut, Standar Kompetensi Pengelola PAUD berfungsi sebagai piranti untuk meningkatkan kualitas pelayanan lembaga PAUD secara umum.

KTSP PAUD INSANI RENGAT-LENGKAP

MODEL
KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN
UNTUK
KELOMPOK BERMAIN ISLAM TERPADU
PLAYGROUP INSANI
Jl. Aski Aris No. 47 Rengat Riau 29311
Telp. 0769 323518 Email: anakyasin_foundation@yahoo.com
Web blog: http://www.hidayat-soeryana.blogspot.com
DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PENDIDIKAN NASIONAL
PUSAT KURIKULUM
KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN
KELOMPOK BERMAIN ISLAM TERPADU
PLAYGROUP INSANI
I. PENDAHULUAN
A. Rasional
Pemberlakuan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 32 tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah menuntut pelaksanaan otonomi daerah dan wawasan demokrasi
dalam penyelenggaraan pendidikan. Pengelolaan pendidikan yang semula bersifat
sentralistik berubah menjadi desentralistik. Desentralisasi pengelolaan pendidikan
dengan diberikannya wewenang kepada sekolah untuk menyusun kurikulumnya
mengacu pada Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional, yaitu pasal 3 tentang fungsi dan tujuan pendidikan nasional dan pasal 35
tentang standar nasional pendidikan. Juga adanya tuntutan globalisasi dalam bidang
pendidikan yang memacu agar hasil pendidikan nasional dapat bersaiang dengan hasil
pendidikan negara-negara maju.
Desentralisasi pengelolaan pendidikan yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan
dan kondisi daerah perlu segera dilaksanakan. Bentuk nyata dari desentralisasi
pengelolaan pendidikan ini adalah diberikannya kewenangan kepada sekolah untuk
mengambil keputusan berkenaan dengan pengelolaan pendidikan, seperti dalam
pengelolaan kurikulum, baik dalam penyusunannya maupun pelaksanaannya di
sekolah.
Kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan
bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan
pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Tujuan tertentu ini meliputi
tujuan pendidikan nasional serta kesesuaian dengan kekhasan, kondisi dan potensi
daerah, satuan pendidikan dan peserta didik. Oleh sebab itu kurikulum disusun oleh
satuan pendidikan untuk memungkinkan penyesuaian program pendidikan dengan
kebutuhan dan potensi yang ada di daerah.
Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang beragam
mengacu pada standar nasional pendidikan untuk menjamin pencapaian tujuan
pendidikan nasional.Standar nasional pendidikan terdiri atas standar isi, proses,
kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan,
pembiayaan dan penilaian pendidikan. Dua dari kedelapan standar nasional pendidikan
tersebut, yaitu Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) merupakan
acuan utama bagi satuan pendidikan dalam mengembangkan kurikulum.
Pengembangan kurikulum disusun antara lain agar dapat memberi kesempatan peserta
didik untuk : (a) belajar untuk beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
(b) belajar untuk memahami dan menghayati, (c) belajar untuk mampu melaksanakan
dan berbuat secara efektif, (d) belajar untuk hidup bersama dan berguna untuk orang
lain, dan (e) belajar untuk membangun dan menemukan jati diri melalui proses belajar
yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan.
Kewenangan sekolah dalam menyusun kurikulum memungkinkan sekolah
menyesuaikan dengan tuntutan kebutuhan siswa, keadaan sekolah, dan kondisi daerah.
Dengan demikian, daerah dan atau sekolah memiliki cukup kewenangan untuk
merancang dan menentukan hal-hal yang akan diajarkan, pengelolaan pengalaman
belajar, cara mengajar, dan menilai keberhasilan belajar mengajar
B. Dasar Pemikiran, Visi dan Tujuan Sekolah
1. Dasar Pemikiran
Dan hendaklah takut (kepada ALLAH) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan
keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap
(kesejahteraannya)…(QS. An Nisaa’ : 09)
2. Visi
Menjadi lembaga pendidikan prasekolah yang mampu membentuk tunas-tunas muda Islam
yang sehat, cerdas, kreatif dan bertaqwa.
3. Tujuan
· Pembentukan Aqidah yang benar (Salimul Aqidah)
· Membentuk perilaku dan akhlak yang mulia
· Membentuk keilmuan dan pengetahuan dasar anak.
· Membentuk visi dan jiwa sosial anak
· Mendidik anak mampu berkomunikasi dengan lancar dan percaya diri
· Membentuk dan mengembangkan jiwa keindahan, kreatifitas dan keterampilan
anak
C. Pengertian
1. Kurikulum
Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan
bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan
kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
2. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di
masing-masing satuan pendidikan. KTSP terdiri dari tujuan pendidikan tingkat
satuan pendidikan, struktur dan muatan kurikulum tingkat satuan pendidikan,
kalender pendidikan, dan silabus.
3. Silabus
Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata
pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi , kompetensi dasar,
materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator, penilaian, alokasi
waktu, dan sumber/bahan/alat belajar. Silabus merupakan penjabaran standar
kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam materi pokok/pembelajaran, kegiatan
pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian. Contoh
silabus terdapat pada lampiran
4. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Perencanaan proses pembelajaran meliputi silabus dan rencana pelaksanaan
pembelajaran yang memuat sekurang-kurangnya tujuan pembelajaran, materi ajar,
metode pengajaran, sumber belajar, dan penilaian hasil belajar. Contoh rencana
pelaksanaan pembelajaran PLAYGROUP INSANI terdapat pada Lampiran
II. STRUKTUR DAN MUATAN KURIKULUM
A. Struktur Kurikulum
Struktur kurikulum merupakan pola dan susunan mata pelajaran yang harus
ditempuh oleh peserta didik pada satuan pendidikan dalam kegiatan pembelajaran.
Struktur kurikulum Playgroup Insani disusun berdasarkan standar kompetensi dan
kompetensi dasar pendidikan anak usia dini.
STANDAR KOMPETENSI ANAK USIA DINI
A. Pengertian
Standar kompetensi anak usia dini adalah standar kemampuan anak usia
0-6 tahun yang didasarkan pada perkembangan anak. Standar kompetensi ini
digunakan sebagai acuan dalam mengembangkan kurikulum anak usia dini.
B. Standar Kompetensi Anak Usia Dini
Standar kompetensi anak usia dini terdiri atas pengembangan aspekaspek
sebagai berikut:
a. Moral dan nilai-nilai agama
b. Sosial, emosional, dan kemandirian
c. Bahasa
d. Kognitif
e. Fisik/Motorik
f. Seni
Dalam program belajar pengenalan dan penyampaian materi dilakukan
selama 2 semester dengan tema-tema sebagai berikut :
 Tema untuk Semester I :
1. Aku ( Mengenal Identitas diri )
2. Pengenalan Panca Indra
3. Pengenalan Keluarga
4. Pengenalan Tempat tinggal (Rumah)
5. Pengenalan Sekolah
6. Pengenalan Makanan dan Minuman
7. Pengenalan Pakaian
8. Pengenalan Kesehatan, kebersihan dan keamanan.
9. Pengenalan Makhluk lain ( binatang, tanaman )
 Tema untuk semester II :
1. Pengenalan ciptaan Allah dan Ciptaan Manusia,
2. Pengenalan kendaraan,
3. Pekerjaan
4. Rekreasi
5. Mengenal air dan udara
6. Mengenal api
7. Negaraku
8. Alat komunikasi
9. Mengenal gejala alam, matahari bulan, bintang dan bumi.
 Belajar hafalan do’a dan surat-surat pendek (Al qur’an ) .
Kegiatan Belajar Mengajar
Jadwal pertemuan / proses belajar : 2 jam per hari, 3 hari dalam 1 minggu
Senin : 08.00 – 10.15 WIB
Rabu : 08.00 – 10.15 WIB
Jum’at: 08.00 – 10.15 WIB
SKBM ( Sistem Kegiatan Belajar Mengajar )
No. Jam ( WIB ) Kegiatan
1. 08.00 – 08.15 Anak berbaris di halaman dengan membaca
“IKRAR”
2. 08.15 – 08.30 Anak dibimbing masuk ke dalam kelas untuk
menyebutkan apa saja
3. 08.30 – 09.30 1. Membaca do’a sebelum belajar
2. Membaca do’a pembuka hati
3. IQRA secara klasikal
4. Anak belajar
a. Bernyanyi
b. Mewarnai
c. Menempel
d. Berkreasi sendiri
4. 09.30 – 10.00 Snack
5. 10.00 – 10.15 Gosok gigi bersama, Istirahat
Persiapan pulang dan membaca doa’ pulang
Catatan : Khusus hari jum’at dilakukan senam sebelum masuk kelas
Sarana Dan Prasarana
a. Sarana Belajar dan Bermain
· Alat bermain edukatif
· Buku mewarnai, buku cerita bergambar
· Alat peraga, miniatur binatang
· Maket, gambar dan poster
· Bendera, tali, lilin / malam dan puzzles
· Rumah – rumah taman, ayunan, prosotan, jungkitan, balok titian dll
· Miniatur alat transportasi
· Mobil – mobilan, pesawat, balon, bola dll
· Alat bermain imajinatif , balok besar / kecil, beraneka rumah-rumahan
· Alat permainan tradisional, tanah liat dll
· Mainan konstruksi bongkar pasang , potongan kayu, krayon, cat warna dll
· Alat kesenian, tipe recorder, kaset lagu, krincingan dan alat untuk
senam
· Berbagai macam mainan dari bahan plastik lainnya.
b. Perlengkapan lainnya
· Laporan perkembangan anak
· Kartu masalah
· Daftar Hadir
· Rak sepatu / rak mainan
· Papan tulis / White board
· Kasur
· Bangku duduk kecil dan Meja warna
· Ruang untuk belajar dan bermain
· P3K
· Peralatan kantor lainnya untuk guru dan kepala sekolah
Karakteristik Penilaian Keberhasilan
Untuk anak didik
· Pembentukan akidah dan keimanan anak-anak muslim sejak dini
· Mengenal konsep-konsep dasar Islam
· Mampu mengekspresikan ahlaqul karimah
· Mampu menghapal 5 do’a sehari-hari dan 5 surat-surat pendek Juz 30
· Berbadan sehat, bugar dan energik
· Mampu bersosialisasi dan berkomunikasi dengan guru sesama teman dan
lingkungannya
· Mampu mengekspresikan kreatifitas secara lisan, gerak, dan gambar
· Mencintai, patuh dan santun terhadap orang tua guru dan orang yang lebih tua
· Menyayangi sesama teman dan anak yang lebih muda
· Mengenal cara hidup bersih, aman.
· Terpenuhinya kesiapan anak untuk memasuki jenjang pendidikan yang lebih
tinggi secara emosional, intelektual, fisik dan spiritual.
Untuk Orangtua
· Meningkatnya partisipasi orang tua dalam setiap kegiatan bagi anak.
· Meningkatnya kesadaran orang tua akan pentingnya pendidikan, kesehatan
dan gizi anak.
Untuk Lembaga
· Meningkatnya apresiasi dan minat masyarakat untuk mengikuti kegiatan
Playgroup ini.
· Menjadi pusat layanan yang terpadu bagi anak prasekolah yang mencakup aspek
spiritual, pendidikan, kesehatan dan gizi anak.
III. KALENDER PENDIDIKAN
Kalender pendidikan adalah pengaturan waktu untuk kegiatan pembelajaran
peserta didik selama satu tahun ajaran. Kalender pendidikan mencakup permulaan
tahun ajaran, minggu efektif belajar, waktu pembelajaran efektif dan hari libur.
KALENDER PENDIDIKAN DAN ANALISIS HARI BELAJAR EFEKTIF
PLAYGROUP INSANI
TAHUN PELAJARAN 2007/2008
BULAN
SEMESTER
JUMLAH
Senin
Selasa
Rabu
Kamis
Jumat
Sabtu
HARI KETERANGAN / KEGIATAN
Juli
Agustus
September
Oktober
Nopember
Desember
Januari
S E M E S T E R I
3 – 2 – 2 – 7
• 1-15 Penerimaan murid baru
• 16 Juli awal belajar semester I
• 16,17, 18, 19 Juli awal belajar semester I
4 – 5 – 4 – 13
• 17 Agustus HUT Kemerdekaan RI
• 15 Perlombaan dalam rangka HUT RI & Isra’ Miraj
4 – 3 – 3 – 10 • 12,13,14 libur awal ramadhan
• 22 Ifthor Shaum bersama
4 – 4 – 2 – 10
• 12,15,16, cuti bersama
• 13,14 Hari raya Idul Fitri
• 17,18,19,20 Perkiraan libur setelah Idul Fitri
4 – 4 – 5 – 13 • -
4 – 4 – 3 – 11
• 21,24 cuti bersama
• 25 hari Raya Natal
• 20 Idul Adha 1428 H
• Pembagian buku raport semester
2 – 3 – 2 -
• 1 Tahun Baru 2008
JUMLAH
BULAN
SEMESTER
JUMLAH
Senin
Selasa
Rabu
Kamis
Jumat
Sabtu
HARI KEGIATAN
Januari
Pebruari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
S E M E S T E R II
4 – 4 – 4 -
3 – 4 – 5 -
5 – 4 – 3 -
3 – 4 – 3 -
4 – 3 – 2 -
– – – – – – 0
JUMLAH 109
Rengat, 03 May 2007
Kepala PLAYGROUP INSANI
Apriza Angraeny, AMa Skom
TEMA
ALAM
SEMESTA
3 Minggu
Bahasa
Kompetensi Dasar
· Membaca
· Dapat mengungkapkan
keinginannya melalui ungkapan
sederhana
Indikator
· Mengenal buku cerita yang
disukainya melalui cover buku dan
meminta dibacakan
· Menjawab pertanyaan sederhana
”APA, SIAPA, DIMANA”
· Menceritakan pengalaman sehari
hari secara sederhana
Kognitif
Kompetensi Dasar
· Berfikir scientific : menemukan
· Dapat memahami keberadaan
benda yang terlihat dan
disembunyikan
Indikator
· Mengamati benda di sekitarnya
· Mencari benda yang disembunyikan
· Mencari sebuah benda diantara
koleksi beberapa benda dan
memberi respon terhadap
permintaan (ex. ” Temukan
beberapa benda yang berwarna
pink atau Tunjukan padaku kulit
kerang berwarna hijau”
Fisik Motorik
Kompetensi Dasar
· Gerakan halus
· Berpindah tempat
· Dapat memainkan benda
menggunakan tangan /kaki
(motorik kasar)
Indikator
· Melompat turun dari ketinggian
10-20 cm dengan 2 kaki.
· Menghindari rintangan ketika
berjalan
· Menirukan gerakan binatang dan
tanaman
· Naik turun tangga tanpa
berpegangan.
· Mengaduk cairan dengan berbagai
alat
· Menuang (air, beras, biji-bijian)
· Meraup pasir, beras dan biji-bijian
Seni
Kompetensi Dasar
· Dapat bergerak mengikuti bendabenda
di lingkungannya
· Dapat mengekspresikan diri dalam
bentuk coretan sederhana
· Dapat bernyanyi beberapa lagu
Indikator
· Meniru gerakan binatang dan
benda-benda lainnya seperti kapal
terbang
· Bersenandung/menyayikan katakata
pada lirik lagu yang diulang
· Membuat coretan tak berbentuk
· Mengekspresikan fikiran dan
perasaan melalui menggambar
bebas
· Menyanyikan beberapa lagu
Pembiasaan (moral, social, emosi)
Kompetensi Dasar
· Berinteraksi dengan yang lain
Indikator
· Merangkul teman yang sedang
menangis
· Senang bermain dengan teman
· Mau menyapa teman
· Sabar menunggu giliran
JARINGAN RENCANA BELAJAR

TEMA:
ALAM SEMESTA
Minggu 1,2,3
Sub tema: Pengenalan benda-benda alam
semesta
a. Kegunaan matahari, bulan, bintang
dan bumi (1).
b. Yang menciptakan matahari, bulan,
bintang dan bumi (2).
c. Kapan dapat dilihat (2)
d. Gejala alam (3): Jenis-jenis, sebab
terjadinya dan pemeliharaan
lingkungan
Bahasa
· Mengenal dan mengamati beberapa
huruf yang sama dengan huruf
namanya (1)
· Menggunakan ilustrasi untuk
menerka apa yang tertulis (2,3)
Kognitif
· Berinteraksi dengan benda
sesungguhnya atau tiruan dalam
bermaian peran (1)
· Menggambar atau membangun
dengan balok dan menyebutkan
namanya (2,3)
Fisik Motorik
· Memegang benda kecil dengan
telunjuk dan ibu jari (1)
· Membuat bangunan dengan
menggunakan satu bentuk balok
yang sama (2,3)
Seni· Menebalkan titik-titik
· Menggambar bebas dalam lembar
kosong
· Melukis
· Mencipta pola dengan kolase
· Mencipta pola dengan merobek dan
menempel
· Membentuk dengan plastisin
· Menyanyikan syair lagu anak-anak
Pembiasaan (moral, social, emosi)
· Terbiasa berdoa sebelum memulai
kegiatan (1)
· Menerima tugas dengan ikhlas (1)
· Sangat memperhatikan saat anak
lain masuk ke kelas sambil
menangis (1,2)
· Membantu teman kelas
membersihkan tumpahan (2,3)
· Berlatih khusyu dalam berdoa (2)
· Senang melaksanakan ibadah (3)
·
SKM
SATUAN KEGIATAN HARIAN
Kelompok Level : 2.5 – 4 Tahun
Semester/Minggu : I / 1
Tema : Alam Semesta
Sub Tema : Kegunaan matahari, bulan, bintang dan bumi
INDIKATOR KEGIATAN PEMBELAJARAN ALAT ATAU
SUMBER BELAJAR
PENILAIAN PERKEMBANGAN ANAK
ALAT HASIL
· Mau menyapa teman (Pb)
· Menjawab pertanyaan
sederhana (B)
· Menceritakan pengalaman
sehari hari (B)
I. Kegiatan awal
· Penyambutan
· anak
· Berbaris
· Bernyanyi
· Berdoa
· Tanya jawab tentang alam
Semesta
Observasi
Observasi
Observasi
Observasi
Observasi
Observasi
Unjuk kerja
Bersenandung atau menyanyikan
lirik lagu yang diulang (S)
II. Kegiatan Inti
Bernyanyi
Kaset, tamborin, Tape Unjuk kerja
Mencari benda yang disembunyikan
(K)
Membuat benda-benda yang
berbentuk benda langit dan anak
disuruh mencari
Karton, lem, warna Hasil Karya
Membuat coretan tak berbentuk (S) Mencipta pola dengan kolase Kertas, ampas kelapa
warna, lem
Hasil Karya
III. Istirahat atau makan
· Mencuci tangan
· Membaca doa sebelum dan
sesudah makan
· Bermain
Air, ember, baskom,
sendok, piring, gelas,
lap
Observasi
Menjawab pertanyaan sederhana IV. Kegiatan akhir
· Pemberian tugas pulang
sekolah
· Bernyanyi
· Berdoa
· Pulang
Penugasan
Mengetahui
Kepala Sekolah Guru Pendamping

KERANGKA DASAR KURIKULUM PAUD -LENGKAP

Ada permintaan dari salah seorang pembaca, sayangnya alamat emailnya meragukan. Saya tampilkan aja semua -kebetulan gak terlalu suka dengan instruksi “baca selengkapnya” atau “more”… Materi ini diperoleh istri saat pelatihan KTSP. Semoga bermanfaat..

==================


KERANGKA DASAR

KURIKULUM PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

Tim Pengembang:

Pusat Kurikulum

Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini

Direktorat Pembinaan TK dan SD

Universitas Negeri Jakarta

DERPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

2007

DAFTAR ISI

Bab I . Pendahuluan

A. Latar Belakang

B. Tujuan

C. Sasaran

D. Ruang Lingkup

Bab II . Landasan Pendidikan Anak Usia Dini

A. Landasan Yuridis

B. Landasan Filosofis

C. Landasan Keilmuan

Bab III . Hakikat Pendidikan Anak Usia Dini

A. Pengertian

B. Tujuan

C. Prinsip-prinsip

Bab IV. Standar Kompetensi Anak Usia Dini

A. Pengertian

B. Standar Kompetensi

Bab V. Pengembangan Kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini

A. Pengertian

B. Prinsip Pengembangan Kurikulum

C. Ruang Lingkup Kurikulum

D. Komponen Kurikulum

E. Pengembangan Kurikulum pada Satuan Pendidikan


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Memasuki milenium ke tiga Indonesia dihadapkan pada tantangan untuk menyiapkan masyarakat menuju era baru, yaitu globalisasi yang menyentuh semua aspek kehidupan. Dalam era global ini seakan dunia tanpa jarak. Komunikasi dan transaksi ekonomi dari tingkat lokal hingga internasional dapat dilakukan sepanjang waktu. Demikian pula nanti ketika perdagangan bebas sudah diberlakukan, tentu persaingan dagang dan tenaga kerja bersifat multi bangsa. Pada saat itu hanya bangsa yang unggullah yang anak mampu bersaing.

Pendidikan merupakan modal dasar untuk menyiapkan insan yang berkualitas. Menurut Undang-undang Sisdiknas Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Menurut UNESCO pendidikan hendaknya dibangun dengan empat pilar, yaitu learning to know, learning to do, learning to be, dan learning to live together.

Pada hakikatnya belajar harus berlangsung sepanjang hayat. Untuk menciptakan generasi yang berkualitas, pendidikan harus dilakukan sejak usia dini dalam hal ini melalui Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), yaitu pendidikan yang ditujukan bagi anak sejak lahir hingga usia 6 tahun. Sejak dipublikasikannya hasil-hasil riset mutakhir di bidang neuroscience dan psikologi maka fenomena pentingnya PAUD merupakan keniscayaan. PAUD menjadi sangat penting mengingat potensi kecerdasan dan dasar-dasar perilaku seseorang terbentuk pada rentang usia ini. Sedemikian pentingnya masa ini sehingga usia dini sering disebut the golden age (usia emas).

Dengan diberlakukannya UU No. 20 Tahun 2003 maka sistem pendidikan di Indonesia terdiri dari pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi yang keseluruhannya merupakan kesatuan yang sistemik. PAUD diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar. PAUD dapat diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal, nonformal, dan/atau informal. PAUD pada jalur pendidikan formal berbentuk Taman Kanak-kanak (TK), Raudatul Athfal (RA), atau bentuk lain yang sederajat. PAUD pada jalur pendidikan nonformal berbentuk Kelompok Bermain (KB), Taman Penitipan Anak (TPA), atau bentuk lain yang sederajat. PAUD pada jalur pendidikan informal berbentuk pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan.

Dalam upaya pembinaan terhadap satuan-satuan PAUD tersebut, diperlukan adanya sebuah kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi anak usia dini yang berlaku secara nasional. Kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi adalah rambu-rambu yang dijadikan acuan dalam penyusunan kurikulum dan silabus (rencana pembelajaran) pada tingkat satuan pendidikan. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan.

B. Tujuan

Tujuan kerangka dasar kurikulum pendidikan anak usia dini adalah kerangka dasar yang dijadikan sebagai acuan bagi lembaga pendidikan anak usia dini dalam mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan.

C. Sasaran

Sasaran kerangka dasar ini adalah lembaga-lembaga penyelenggara PAUD jalur pendidikan formal dan nonformal seperti Taman Kanak-Kanak, Raudatul Athfal, Kelompok Bermain,Taman Penitipan Anak, dan Satuan PAUD yang sejenis.


D. Ruang Lingkup Penulisan

Kerangka dasar ini terdiri dari bab I Pendahuluan, bab II Landasan Pendidikan Anak Usai dini, bab III. Hakikat Pendidikan Anak Usai Dini, bab IV Standar Kompetensi Anak Usia Dini, bab V Struktur Kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini, bab VI Penilaian Kurikulum, dan bab. VII Penutup.


BAB II

LANDASAN PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

A. Landasan Yuridis

1. Dalam Amandemen UUD 1945 pasal 28 B ayat 2 dinyatakan bahwa ”Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi”.

2. Dalam UU NO. 23 Tahun 2002 Pasal 9 Ayat 1 tentang Perlindungan Anak dinyatakan bahwa ”Setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasarnya sesuai dengan minat dan bakatnya”.

3. Dalam UU NO. 20 TAHUN 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab 1, Pasal 1, Butir 14 dinyatakan bahwa ”Pendidikan Anak Usia Dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia 6 tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut”. Sedangkan pada pasal 28 tentang Pendidikan Anak Usia Dini dinyatakan bahwa ”(1) Pendidikan Anak usia dini diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar, (2) Pendidkan anak usia dini dapat diselenggarakan melalui jalur pendidkan formal, non formal, dan/atau informal, (3) Pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal: TK, RA, atau bentuk lain yang sederajat, (4) Pendidikan anak usia dini jalur pendidikan non formal: KB, TPA, atau bentuk lain yang sederajat, (5) Pendidikan usia dini jalur pendidikan informal: pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan, dan (6) Ketentuan mengenai pendidikan anak usia dini sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.”

B. Landasan Filosofis

Pendidikan merupakan suatu upaya untuk memanusiakan manusia. Artinya melalui proses pendidikan diharapkan terlahir manusia-manusia yang baik. Standar manusia yang “baik” berbeda antar masyarakat, bangsa atau negara, karena perbedaan pandangan filsafah yang menjadi keyakinannya. Perbedaan filsafat yang dianut dari suatu bangsa akan membawa perbedaan dalam orientasi atau tujuan pendidikan.

Bangsa Indonesia yang menganut falsafah Pancasila berkeyakinan bahwa pembentukan manusia Pancasilais menjadi orientasi tujuan pendidikan yaitu menjadikan manusia indonesia seutuhnya.Bangsa Indonesia juga sangat menghargai perbedaan dan mencintai demokrasi yang terkandung dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang maknanya “berbeda tetapi satu.” Dari semboyan tersebut bangsa Indonesia juga sangat menjunjung tinggi hak-hak individu sebagai mahluk Tuhan yang tak bisa diabaikan oleh siapapun. Anak sebagai mahluk individu yang sangat berhak untuk mendaptkan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya. Dengan pendidikan yang diberikan diharapkan anak dapat tumbuh sesuai dengan potensi yang dimilkinya, sehingga kelak dapat menjadi anak bangsa yang diharapkan. Melalui pendidikan yang dibangun atas dasar falsafah pancasila yang didasarkan pada semangat Bhineka Tunggal Ika diharapkan bangsa Indonesia dapat menjadi bangsa yang tahu akan hak dan kewajibannya untuk bisa hidup berdampingan, tolong menolong dan saling menghargai dalam sebuah harmoni sebagai bangsa yang bermartabat.

Sehubungan dengan pandangan filosofis tersebut maka kurikulum sebagai alat dalam mencapai tujuan pendidikan, pengembangannya harus memperhatikan pandangan filosofis bangsa dalam proses pendidikan yang berlangsung.

  1. Landasan Keilmuan

Landasan keilmuan yang mendasari pentingnya pendidikan anak usia dinii didasarkan kepada beberapa penemuan para ahli tentang tumbuh kembang anak. Pertumbuhan dan perkembangan anak tidak dapat dilepaskan kaitannya dengan perkembangan struktur otak. Menurut Wittrock (Clark, 1983), ada tiga wilayah perkembangan otak yang semakin meningkat, yaitu pertumbuhan serabut dendrit, kompleksitas hubungan sinapsis, dan pembagian sel saraf. Peran ketiga wilayah otak tersebut sangat penting untuk pengembangan kapasitas berpikir manusia. Sejalan dengan itu Teyler mengemukakan bahwa pada saat lahir otak manusia berisi sekitar 100 milyar hingga 200 milyar sel saraf. Tiap sel saraf siap berkembang sampai taraf tertinggi dari kapasitas manusia jika mendapat stimulasi yang sesuai dari lingkungan.

Jean Piaget (1972) mengemukakan tentang bagaimana anak belajar:“ Anak belajar melalui interaksi dengan lingkungannya. Anak seharusnya mampu melakukan percobaan dan penelitian sendiri. Guru bisa menuntun anak-anak dengan menyediakan bahan-bahan yang tepat, tetapi yang terpenting agar anak dapat memahami sesuatu, ia harus membangun pengertian itu sendiri, dan ia harus menemukannya sendiri.” Sementara Lev Vigostsky meyakini bahwa : pengalaman interaksi sosial merupakan hal yang penting bagi perkembangan proses berpikir anak. Aktivitas mental yang tinggi pada anak dapat terbentuk melalui interaksi dengan orang lain. Pembelajaran akan menjadi pengalaman yang bermakna bagi anak jika ia dapat melakukan sesuatu atas lingkungannya. Howard Gardner menyatakan tentang kecerdasan jamak dalam perkembangan manusia terbagi menjadi: kecerdasan bodily kinestetik, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan interpersonal, kecerdasan naturalistik, kecerdasan logiko – matematik, kecerdasan visual – spasial, kecerdasan musik.

Dengan demikian perkembangan kemampuan berpikir manusia sangat berkaitan dengan struktur otak, sedangkan struktur otak itu sendiri dipengaruhi oleh stimulasi, kesehatan dan gizi yang diberikan oleh lingkungan sehingga peran pendidikan yang sesuai bagi anak usia dini sangat diperlukan.

BAB III

HAKIKAT PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

1. Pengertian

Pendidikan Anak Usia Dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

2. Tujuan

Secara umum tujuan pendidikan anak usia dini adalah mengembangkan berbagai potensi anak sejak dini sebagai persiapan untuk hidup dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

3. Prinsip-Prinsip Pendidikan Anak Usia Dini

Dalam melaksanakan Pendidikan anak usia dini hendaknya menggunakan prinsip-prinsip sebagai berikut :

a. Berorientasi pada Kebutuhan Anak

Kegiatan pembelajaran pada anak harus senantiasa berorientasi kepada kebutuhan anak. Anak usia dini adalah anak yang sedang membutuhkan upaya-upaya pendidikan untuk mencapai optimalisasi semua aspek perkembangan baik perkembangan fisik maupun psikis, yaitu intelektual, bahasa, motorik, dan sosio emosional.

b. Belajar melalui bermain

Bermain merupakan saran belajar anak usia dini. Melalui bermain anak diajak untuk bereksplorasi, menemukan, memanfaatkan, dan mengambil kesimpulan mengenai benda di sekitarnya.

c. Lingkungan yang kondusif

Lingkungan harus diciptakan sedemikian rupa sehingga menarik dan menyenangkan dengan memperhatikan keamanan serta kenyamanan yang dapat mendukung kegiatan belajar melalui bermain.

d. Menggunakan pembelajaran terpadu

Pembelajaran pada anak usia dini harus menggunakan konsep pembelajaran terpadu yang dilakukan melalui tema. Tema yang dibangun harus menarik dan dapat membangkitkan minat anak dan bersifat kontekstual. Hal ini dimaksudkan agar anak mampu mengenal berbagai konsep secara mudah dan jelas sehingga pembelajaran menjadi mudah dan bermakna bagi anak.

e. Mengembangkan berbagai kecakapan hidup

Mengembangkan keterampilan hidup dapat dilakukan melalui berbagai proses pembiasaan. Hal ini dimaksudkan agar anak belajar untuk menolong diri sendiri, mandiri dan bertanggungjawab serta memiliki disiplin diri.

f. Menggunakan berbagai media edukatif dan sumber belajar

Media dan sumber pembelajaran dapat berasal dari lingkungan alam sekitar atau bahan-bahan yang sengaja disiapkan oleh pendidik /guru.

a. Dilaksanakan secara bertahap dan berulang –ulang

Pembelajaran bagi anak usia dini hendaknya dilakukan secara bertahap, dimulai dari konsep yang sederhana dan dekat dengan anak. Agar konsep dapat dikuasai dengan baik hendaknya guru menyajikan kegiatan–kegiatan yang berluang .

BAB IV

STANDAR KOMPETENSI ANAK USIA DINI

A. Pengertian

Standar kompetensi anak usia dini adalah standar kemampuan anak usia 0-6 tahun yang didasarkan pada perkembangan anak. Standar kompetensi ini digunakan sebagai acuan dalam mengembangkan kurikulum anak usia dini.

B. Standar Kompetensi Anak Usia Dini

Standar kompetensi anak usia dini terdiri atas pengembangan aspek-aspek sebagai berikut:

  1. Moral dan nilai-nilai agama
  2. Sosial, emosional, dan kemandirian
  3. Bahasa
  4. Kognitif
  5. Fisik/Motorik
  6. Seni

BAB V

PENGEMBANGAN KURIKULUM

TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

A. Pengertian

Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan belajar serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelengaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

B. Prinsip-prinsip Pengembangan

1. Bersifat komperhensif

Kurikulum harus menyediakan pengalaman belajar yang meningkatkan perkembangan anak secara menyeluruh dalam berbagai aspek perkembangan .

2. Dikembangkan atas dasar perkembangan secara bertahap.

Kurikulum harus menyediakan berbagai kegiatan dan interaksi yang tepat didasarkan pada usia dan tahapan perkembangan setiap anak. Program menyediakan berbagai sarana dan bahan untuk anak dengan berbagai kemampuan.

3. Melibatkan orang tua

Keterlibatan orang tua sebagai pendidik utama bagi anak. Oleh karena itu peran orang tua dalam pendidikan anak usia dini sangat penting dalam pelaksanaan pendidikan.

4. Melayani kebutuhan individu anak.

Kurikulum dapat mewadahi kemampuan, kebutuhan,minat setiap anak.

5. Merefleksikan kebutuhan dan nilai masyarakat

Kurikulum harus memperhatikan kebutuhan setiap anak sebagai anggota dari keluarga dan nilai-nilai budaya suatu masyarakat.

6. Mengembangkan standar kompetensi anak

Kurikulum yang dikembangkan harus dapat mengembangkan kompetensi anak. Standar Kompetensi seabagi acuan dalam menyiapkan lingkungan belajar anak.

7. Mewadahi layanan anak berkebutuhan khusus

Kurikulum yang dikembangkan hendaknya memperhatikan semua anak termasuk anak-anak yang berkebutuhan khususus.

8. Menjalin kemitraan dengan keluarga dan masyarakat

Kurikulum hendaknya dapat menunjukkan bagaimana membangun sinegi dengan keluarga dan masyarakat sehingga tujuan pendidikan dapat tercapai

9.Memperhatikan kesehatan dan keselamatan anak

Kurikulum yang dibangun hendaknya memperhatikan aspek keamanan dan kesehatan anak saat anak berada disekolah

10.Menjabarkan prosedur pengelolaan Lembaga

Kurikulum hendaknya dapat menjabarkan dengan jelas prosedur manajemen /pengelolaan lembaga kepada masyarakat sebagai bentuk akuntabiitas.

11. Manajemen Sumber Daya Manusia

Kurikulum hendaknya dapat menggamabarkan proses manajemen pembinaan sumber daya manusia yang terlibat di lembaga

12.Penyediaan Sarana dan Prasarana.

Kurikulum dapat menggambarkan penyediaan srana dan prasaran yang dimiliki lembaga.

C. Komponen Kurikulum

a. Anak

Sasaran layanan pendidikan Anak usia dini adalah anak yang berada pada rentang usia 0 – 6 tahun. Pengelompokan anak didasarkan pada usia sebagai berikut :

1) 0 – 1 tahun

2) 1 – 2 tahun

3) 2- 3 tahun

4) 3 - 4 tahun

5) 4- 5 tahun

6) 5 - 6 tahun .

b. Pendidik

Kompetensi Pendidik anak usia dini memiliki kualifikasi akademik sekurang-kurangnya Diploma Empat (D-IV) atau Sarjana (S1) di bidang pendidikan anak usia dini, kependidikan lain, atau psikologi; dan memiliki sertifikasi profesi guru PAUD atau sekurang – kurangnya telah mendapat pelatihan pendidikan anak usia dini. Adapun rasio pendidik dan anak adalah

1) Usia 0 – 1 tahun rasio 1 : 3 anak

2) Usai 1 – 3 tahun rasio 1 : 6 anak

3) Usia 3 - 4 tahun rasio 1 : 8 anak

4) Usia 4 - 6 tahun rasio 1 : 10 /12 anak

c. Pembelajaran

Pembelajaran dilakukan melalui kegiatan bermain yang dipersiapkan oleh pendidik dengan menyiapkan materi ( content ), dan proses belajar. Materi belajar bagi anak usia dini dibagi dalam 2 kelompok usia.

Materi Usia lahir sampai 3 tahun meliputi:

1). Pengenalan diri sendiri ( Perkembangan konsep diri)

2). Pengenalan perasaan (Perkembangan emosi)

3). Pengenalan tentang Orang lain (Perkembangan Sosial)

4). Pengenalan berbagai gerak (perkembangan Fisik)

5). Mengembangkan komunikasi (Perkembangan bahasa)

6). Ketrampilan berfikir (Perkembangan kognitif)

Materi untuk anak usia 3 – 6 tahun meliputi :

1) Keaksaraan mencakup peningkatan kosa kata dan bahasa, kesadaran phonologi, wawasan pengetahuan, percakapan, memahami buku-buku, dan teks lainnya.

2) Konsep Matematika mencakup pengenalan angka-angka, pola-pola dan hubungan, geometri dan kesadaran ruang, pengukuran, pengumpulan data, pengorganisasian, dan mempresentasikannya.

3) Pengetahuan Alam lebih menekankan pada objek fisik, kehidupan, bumi dan lingkungan.

4) Pengetahuan Sosial mencakup hidup orang banyak, bekerja, berinteraksi dengan yang lain, membentuk, dan dibentuk oleh lingkungan. Komponen ini membahas karakteristik tempat hidup manusia, dan hubungannya antara tempat yang satu dengan yang lain, juga hubungannya dengan orang banyak. Anak-anak mempelajari tentang dunia dan pemetaannya, misalnya dalam rumah ada ruang tamu, ruang tidur, kamar mandi, dapur, ruang keluarga, ruang belajar; di luar rumah ada taman, garasi, dll. Setiap rumah memiliki tetangga dalam jarak dekat atau jauh.

5) Seni mencakup menari, musik, bermain peran, menggambar dan melukis. Menari, adalah mengekspresikan ide ke dalam gerakan tubuh dengan mendengarkan musik, dan menyampaikan perasaan. Musik, adalah mengkombinasikan instrumen untuk menciptakan melodi dan suara yang menyenagkan. Drama, adalah mengungkapkan cerita melalui aksi, dialog, atau keduanya. Seni juga mencakup melukis, menggambar, mengoleksi sesuatu, modeling, membentuk dengan tanah liat atau materi lain, menyusun bangunan, membuat boneka, mencap dengan stempel, dll.

6) Teknologi mencakup alat-alat dan penggunaan operasi dasar. Kesadaran Teknologi. Komponen ini membahas tentang alat-alat teknologi yang digunakan anak-anak di rumah, di sekolah, dan pekerjaan keluarga. Anak-anak dapat mengenal nama-nama alat dan mesin yang digunakan oleh manusia sehari-hari.

7) Ketrampilan Proses mencakup pengamatan dan eksplorasi; eksperimen, pemecahan masalah; dan koneksi, pengorganisasian, komunikasi, dan informasi yang mewakili.

Untuk mewadahi proses belajar bagi anak usa dini pendidik harus dapat melakukan penataan lingkungan main, menyediakan bahan–bahan main yang terpilih, membangun interaksi dengan anak dan membuat rencana kegiatan main untuk anak. Proses pembelajaran anak usia dini dilakukan melalui sentra atau area main. Sentra atau area tersebut bisa disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi dari masing-masing satuan Pendidikan. Contoh sentra atau area bermain tersebut antara lain : Sentra Balok, Sentra Bermain Peran, Sentra Seni, Sentra Musik, Sentra Persiapan, Sentra agama, dan Sentra Memasak.

d. Penilaian (Assesmen)

Assesmen adalah proses pengumpulan data dan dokumentasi belajar dan perkembangan anak. Assesmen dilakukan melalui : observasi, konfrensi dengan para guru, survey, wawancara dengan orang tua, hasil kerja anak, dan unjuk kerja. Keseluruhan penilaian /assesmen dapat di buat dalam bentuk portofolio.

e. Pengelolaan Pembelajaran

1). Keterlibatan Anak

2). Layanan program

Lembaga Pendidikan anak usia dini dilaksnanakan sesuai satuan Pendidikan masing-masing. Jumlah hari dan jam layanan :

(a) Taman Penitipan Anak (TPA) dilaksanakan 3 – 5 hari dengan jam layanan minimal 6 jam. Minimal layanan dalam satu tahun 144 -160 hari atau 32 – 34 minggu.

(b) Kelompok Bermain (KB) setiap hari atau minimal 3 kali seminggu dengan jumlah jam minimal 3 jam. Minimal layanan dalam satu tahun 144 hari atau 32 - 34 minggu.

(c) Satuan PAUD Sejenis (SPS) minimal satu minggu sekali dengan jam layanan minimal 2 jam. Kekurangan jam layanan pada SPS dilengkapi dengan program pengasuhan yang dilakukan orang tua sehingga jumlah layanan keseluruhan setara dengan 144 hari dalam satu tahun.

(d) Taman Kanak-Kanak (TK) dilaksanakan minimal 5 hari setiap minggu dengan jam layanan minimal 2,5 jam. Layanan dalam satu tahun 160 hari atau 34 minggu.

Layanan pembelajaran pada masing-masing satuan pendidikan anak usia dini mengikuti kalender pendidikan daerah masing-masing.

f. Melibatkan Peranserta masyarakat

Pelaksanaan pendidikan anak usia dini hendaknya dapat melibatkan seluruh komponen masyarakat. Penyelenggaraan pendiikan anak usai dini dapat dilakukan oleh swasta dan pemerintah , yayasan maupun perorangan.

E. Satuan Pendidikan Anak Usia Dini.

Kerangka dasar Kurikulum digunakan pada pendidika anak usia dini jalur formal maupun jalur non formal yaitu : Taman Kanak-Kanak/ Raudhatul Athfal, Taman Penitipan Anak, Kelompok Bermain, dan Satuan PAUD Sejenis.

a. Taman Kanak adalah salah satu bentuk satuan pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal yang menyelenggarakan program pendidikan bagi anak usia empat tahun sampai enam tahun. Sasaran Pendidikan Taman Kanak-Kanak adalah anak usia 4 – 6 tahun, yang dibagi ke dalam dua kelompok belajar berdasarkan usia yaitu Kelompok A untuk anak usia 4 – 5 tahun dan Kelompok B untuk anak didik usia 5 – 6 tahun.

b. Kelompok Bermain adalah salah satu bentuk PAUD pada jalur pendidikan non formal yang menyelenggarakan program pendidikan sekaligus program kesejahteraan bagi anak usia 2 sampai dengan 4 tahun. Sasaran KB adalah anak usia 2 – 4 tahun dan anak usia 4 – 6 tahun yang tidak dapat dilayani TK (setelah melalui pengkajian dan mendapat rekomendasi dari pihak yang berwenang).

c. Taman Penitipan Anak adalah layanan pendidikan yang dilaksanakan pemerintah dan masyarakat bagi anak usia lahir – 6 tahun yang orang tuanya bekerja. Peserta didik pada TPA adalah anak usia lahir – 6 tahun.

d. Satuan PAUD Sejenis (SPS) adalah layanan minimal merupakan layanan minimal yang hanya dilakukan 1-2 kali/minggu atau merupakan layanan PAUD yang diintegrasikan dengan program layanan lain. Peserta didik pada SPS adalah anak 2-4 tahun.

BAB VI

PENILAIAN KURIKULUM

Evaluasi / Penilaian adalah suatu analisis yang sistimatis untuk melihat efektifitas program yang diberikan dan pengaruh program tersebut terhadap anak. Penilaian kurikulum dilakukan secara berkala dan berkesinambungan oleh Pusat maupun Daerah. Penilaian kurikulum dimaksudkan untuk mngetahui sejauh mana kurikulum dilaksanakan dan kesesuainnya dengan kerangka dasar fungsi dan tujuan pendiikan nasional serta kesesuaian dengan tuntutan perkembangan yang terjadi di masyarakat. Hasil penilaian kurikulum digunakan untuk menyempurnakan pelaksanaan dan mengembangkan kurikulum selanjutnya.

PENCAIRAN DANA INSENTIF PENDIDIK PAUD

Info terbaru dari Jugaguru.com
Jejak Info

Selasa, 08 April 2008 09:32:57
Pencairan dana Insentif Pendidik PAUD
Kategori: Liputan Khusus (102 kali dibaca)

Salah satu Dana pembantuan yang diberikan oleh Dit.PTK-PNF adalah dana pembantuan bagi 40.000 orang pendidik PAUD melalui rekening yang bersangkutan. Namun adanya keterlambatan pengiriman nomor rekening kepada kami, tidak bisa di realisasikan secara serentak.

Dit PTK-PNF telah mentransfer sebanyak 11.193 orang, bagi pendidik PAUD bisa ngecek ke bank. Untuk Tahap berikutnya bisa di cek bulan Mei tahun 2008. Batas pengiriman nomor rekening bagi pendidik PAUD yang sudah ada di SK paling lambat tanggal 14 April 2008, kami tidak memproses lagi setelah lewat dari tanggal tersebut.

Banyaknya pengaduan dari pihak Pendidik PAUD tentang kesalahan dari nama dan lembaga bukan dari pihak Dit PTK-PNF, karena kami menerima data dari Dinas Pendidikan Provinsi masing-masing, sebagai himbauan bagi pendidik PAUD untuk melaporkan data-data yang terbaru ke Dinas Pendidikan setempat.

=========================

Info dari guru-guru dan tutor PAUD di Inhu sebagian sudah ada yang menerima terutama yang rekeningnya di BRI dan Mandiri.

BTW. Istri saya sendiri -padahal ketua HIMPAUDI Kabupaten dan kebagian seksi sibuk- sampai hari ini belum dapat dana insentifnya :D

Meski Masuk dalam UU Sisdiknas, PAUD Masih Jadi Tanda Tanya

Pasted from <http://www.riautoday.com/new/index.php?option=com_content&task=view&id=5331&Itemid=6>

Meski Masuk dalam UU Sisdiknas, PAUD Masih Jadi Tanda Tanya

Monday, 11 February 2008 14:11

Laporan Yusuf redaksi@riautoday.com Alamat Email inidilindungi dari bot spam, Anda Harus Mengaktifkan Javascript Untuk Melihatnya

PEKANBARU–Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) penting untuk mencerdaskan anak. Meski PAUD sudah merupakan kewajiban dalam UU Sisdiknas namun masyarakat masih banyak yang belum memahaminya dengan baik.

Masih belum tahunya kegunaan PAUD dan tatacara pendiriannya menjadi tanda tanya bagi peserta pembekalan PAUD dalam rangka jambore PKK dan hari kesatuan gerak PKK ke-35 Riau di Hotel Mutiara Senin (11/2).

Menjawab pertanyaan ini, sejumlah pemateri seperti Direktur PAUD Gutama dan Dirjen Pls Depdiknas Riau Andre mengatakan dasar pendirian PAUD adalah UU Sisdiknas sedangkan pos PAUD berada di sektor non formal yang didukung pemerintah sebesar Rp5 juta hingga 8 juta untuk 33 provinsi.

Sementara Ketua PKK Hj Septina Primawati Rusli mengatakan PAUD sangat penting untuk mencerdaskan anak karena anak umur 0-4 tahun merupakan usia penting untuk kemajuan anak. Saat ini pendirian PAUD banyak dilakukan swasta yang mencapai 99 persen sehingga dengan adanya pembekalan bisa menularkan informasi PAUD.

Kita berharap peran swasta lebih meningkat lagi untuk bersama-sama pemerintah dalam mengembangkan PAUD ini,” ungkapnya.

Kegiatan yang diikuti sebanyak 1525 dihadiri pembicara seperti Kementerian Pemberdayaan Perempuan Setiwati J Arifin yang menyinggung perempuan punya andil dalam legislatif dan eksekutif dengan qupta 30 persen dan pembicara lain Sudariyono dari Kementerian Negara Lingkungan Hidup, yang mengangkat tema ibu rumah tangga hemat listrik, air dan mengolah sampah. (hnr)

Alamat RIAU TODAY

=================================

Harapan yang “aneh”….sudah 99 persen diminta ditingkatkan… jadi pemerintah “ada di mana”? uang rakyat pada ke mana?

Kami yang swasta jungkir balik -kadang seperti pengemis- hanya untuk “mengganti” uang lelah para tutor 50 rebu sampai 100 rebu perak per bulan tidak sebanding dengan “JUMLAH” di sana yang diselewengkan -dan kami pun tidak tertarik untuk menerimanya-

KEPADA PARA PENGUASA
UANG RAKYAT JANGAN DI KORUPSI!!! ATAU KAMI AKAN MENGGUGAT DI PENGADILAN AKHIRAT KELAK!!!

KALAU TIDAK MALU, AMBILLAH! MAKANLAH!

Ya Allah kepada Mu kami akhirnya berserah diri… para penguasa? Engkau Yang Maha Tahu…
Tunjukan bahwa yang benar itu benar dan yang salah itu salah!
Jangan bebani kami dengan beban yang tidak sanggup kami memikulnya!

dari sudut hati yang kadang terasa perih!


Jln HR Soebrantas KM 10,5 Pekanbaru Telp: +62 761 64632 Fax: +62 761 64632 Email: redaksi@riautoday.com

PROGRAM PENDIDIKAN DAN PENGEMBANGAN ANAK USIA DINI (PPAUD)

PROGRAM PENDIDIKAN DAN PENGEMBANGAN ANAK USIA DINI (PPAUD)
…dengan pendanaan U$D 127.74 juta

Sore-sore googling berita tentang PAUD, akhirnya sampai di Blog Baru ppaud.wordpress.com milik direktorat PAUD Depdiknas -salut untuk kreatifitas dan transfaransinya dengan membuat blog-. Berita gembira, -juga berita sedih :( -

berita gembiranya? berikut cuplikannya :

PROGRAM PENDIDIKAN

DAN PENGEMBANGAN

ANAK USIA DINI

(PPAUD)

Latar Belakang

Berbagai studi di bidang tumbuh-kembang anak merekomendasikan bahwa anak usia dini merupakan peletak dasar (fondasi awal) bagi pertumbuhan dan perkembangan anak selanjutnya. Walaupun setiap bayi yang lahir telah diberikan Tuhan dengan potensi genetik yang demikiaan sempurna, tetapi lingkungan juga mempunyai peran besar dalam pembentukan sikap, kepribadian dan pengembangan kemampuan anak. Milyaran neuron (sel saraf) dalam otak anak ketika dilahirkan, akan musnah lewat proses alamiah apabila neuron-neuron ini tidak mendapatkan stimulasi/rangsangan. Rangsangan tersebut bukan saja terhadap aspek pendidikannya, tetapi juga terhadap aspek gizi dan kesehatannya. Rangsangan akan sangat efektif ketika anak masih berusia dini, terutama usia 4 tahun ke bawah. Usia ini merupakan usia yang sangat menentukan, karena pada usia tersebut otak anak sedang mengalami perkembangan secara luar biasa dengan membuat sambungan antar sel. Itulah sebabnya usia 4 tahun ke bawah sering disebut juga dengan usia emas. Mengingat betapa besarnya peranan pendidikan, layanan gizi dan kesehatan pada usia dini tersebut, maka program pendidikan anak usia dini (PAUD) yang keberadaannya masih relatif baru di Indonesia perlu mendapatkan dukungan dari berbagai pihak. Sebagai langkah awal, pemerintah dengan didukung Bank Dunia (dukungan untuk yang kedua kalinya) akan lebih menyebarluaskan program pendidikan dan pengembangan anak usia dini (PPAUD) dengan cara yang mudah, murah dengan tetap mengedepankan mutu.

Pengertian Program PPAUD?

Program PPAUD adalah program layanan pendidikan sekaligus pengembangan kepada anak usia dini secara holistik dan terintegrasi. Holistik artinya bukan hanya stimulasi/ rangsangan terhadap aspek pendidikan yang diberikan kepada anak usia dini, tetapi juga terhadap aspek gizi dan kesehatannya agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Terintegrasi artinya bahwa layanan pendidikan dilaksanakan secara terpadu dengan berbagai layanan anak usia dini yang telah ada di masyarakat (seperti Posyandu, Bina Keluarga Balita, dan berbagai layanan anak usia dini lainnya).

Tujuan Program PPAUD

Program PPAUD bertujuan untuk memberikan dukungan terhadap tumbuh-kembang anak dari keluarga kurang mampu melalui program layanan PAUD holistik dan terintegrasi dengan cara:a. meningkatkan pemerataan kesempatan pelayanan (akses) PAUDb. memperkuat kemampuan kelembagaan peme-rintah pusat, provinsi dan kabupatenc. meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya PAUD

Arah Program PPAUD

Pelaksanaan program PPAUD berdasarkan pada penguatan peran masyarakat. Pemerintah Kabupaten merekrut Tim Fasilitator Masyarakat (TFM) yang bertugas memfasilitasi masyarakat agar mereka memahami pentingnya PAUD. TFM akan memfasilitasi masyarakat untuk merencanakan, melaksanakan dan mengelola, serta memantau layanan PPAUD. Dalam hal ini masyarakat akan dipandu untuk memanfaatkan potensi layanan anak usia dini yang sudah ada, seperti Posyandu, BKB, Taman Pendidikan Al Qur’an, Sekolah Minggu dan Bina Iman. Atau jika tidak ada, dapat membentuk lembaga baru yang memberikan layanan pendidikan, gizi dan kesehatan secara terintegrasi. Sehingga kehadiran PPAUD akan menghidupkan kembali dan memperkuat kegiatan yang sudah ada dan bukan untuk menyainginya.Kegiatan PPAUD secara luwes dapat ditempatkan di Balai Desa/Balai Kelurahan, ruang sekolah yang tidak dimanfaatkan, tempat ibadah, atau rumah penduduk (bahkan bisa di teras rumah, kolong rumah panggung, atau ruang yang tidak dimanfaatkan). Untuk layanan terhadap anak usia 2-6 tahun diberikan oleh pendidik PAUD, yang bisa diambil dari warga masyarakat setempat yang telah mendapatkan pelatihan. Sedangkan untuk layanan terhadap anak 0-2 tahun termasuk orangtua/keluarganya, diberikan oleh tenaga tumbuh-kembang anak. Tenaga tumbuh-kembang anak dapat dipilih dari para kader atau warga masyarakat yang telah mendapatkan pelatihan.

Kegiatan Program PPAUD

Pada dasarnya ada tiga program inti yang akan ditangani melalui program PPAUD, yakni: (

1) meningkatkan layanan PPAUD bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu;

(2) membangun sistem PPAUD yang bermutu dan berkelanjutan; dan

(3) melaksanakan pengelolaan, pemantauan dan penilaian program secara efektif.

Meningkatkan layanan PPAUD bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Program ini dikembangkan berdasarkan perencanaan dan pengelolaan masyarakat. Melalui program PPAUD akan disiapkan tim pelatih nasional (32 orang), tim pelatih provinsi/kabupaten (200 orang), dan fasilitator dari masyarakat (600 orang). Tim pelatih nasional akan melatih tim pelatih provinsi/kabupaten, dan tim pelatih provinsi/kabupaten akan melatih fasilitator dari masyarakat dan tenaga pendidik serta tenaga tumbuh-kembang anak. Fasilitator yang telah dilatih akan memberikan pendampingan terhadap desa-desa calon lokasi program PPAUD. Program PPAUD juga akan melatih 6.000 tenaga pendidik PAUD dan 6.000 tenaga tumbuh-kembang anak. Mereka ini yang nantinya akan menangani program PPAUD di tingkat desa. Operasional program PPAUD di tingkat desa akan berasal dari dana hibah yang untuk mendapatkannya harus melalui pengajuan proposal (yang akan dibimbing oleh Fasilitator). Program PPAUD juga menyediakan dana hibah khusus bagi program PAUD Rujukan Kecamatan (setiap kabupaten hanya tersedia 10 paket yang akan diperebutkan melalui proposal). Selain itu, terdapat matching grant bagi program PAUD Rujukan Kabupaten (hanya tersedia 30 paket). Program ini akan diperebutkan oleh 50 kabupaten lokasi program PPAUD dan 12 kabupaten/kota lokasi eks Proyek PAUD Pertama (Loan 4378-IND).Membangun sistem PPAUD yang bermutu dan berkelanjutan.Program ini dimaksudkan untuk mendukung upaya penjaminan mutu program, tenaga PPAUD termasuk pelatihannya. Selain itu juga dalam rangka penguatan kemampuan Satuan Kerja (Satker) Provinsi dan Kabupaten dalam mengelola program PPAUD yang makin berkembang.Melakukan pengelolaan, pemantauan dan penilaian program secara efektif.Program ini mencakup pembiayaan pengelolaan program tingkat pusat, provinsi, dan kabupaten. Diperkirakan minimal 783.000 anak usia dini usia 0-6 tahun di 3.000 desa akan terlayani selama program ini berlangsung.

=====================================

ini berita “sedih”nya

================================

Daerah Layanan Program PPAUD

Dipilih dengan persyaratan cukup ketat, serta adanya komitmen Pemda untuk menanggung sebagian biaya dan jaminan keberlanjutan program. Berdasarkan keputusan Menteri Pendidikan Nasional No. 070/P/2006, ditetapkan 21 Propinsi dan 50 kabupaten yang menjadi daerah layanan PPAUD, sebagai berikut:

1. NAD: Kab. Aceh Tenggara dan Kab. Aceh Tengah,

2. Sumut: Kab. Toba Samosir dan Kab. Tapanuli Tengah,

3. Sumbar: Kab. Solok, Kab. Sawahlunto/Sijunjung, dan Kab. Pesisir Selatan,

4. Jambi: Kab. Tj. Jabung Timur dan Kab. Sarolangun,

5. Sumsel: Kab. Ogan Komering Ilir,

6. Bengkulu: Kab. Bengkulu Utara dan Kab. Bengkulu Selatan,

7. Lampung: Kab. Lampung Timur dan Kab. Lampung Selatan,

8. Jabar: Kab. Sumedang, Kab. Sukabumi, Kab. Subang, Kab. Majalengka, dan Kab. Garut,

9. Jateng: Kab. Wonogiri, Kab. Rembang, Kab. Cilacap, dan Kab. Banjarnegara,

10. DIY: Kab. Kulon Progo dan Kab. Gunung Kidul,

11. Jatim: Kab. Pacitan, Kab. Madiun, dan Kab. Bondowoso,

12. NTB: Kab. Sumbawa, Kab. Lombok Tengah, dan Kab. Dompu,

13. NTT: Kab. Timor Tengah Utara dan Kab. Sumbawa Barat,

14. Kalbar: Kab. Sambas dan Kab. Ketapang,

15. Sulut: Kab. Kep. Talaud dan Kab. Kep. Sangihe,

16. Sulbar: Kab. Polewali Mandar dan Kab. Mamuju,

17. Sulsel: Kab. Wajo, Kab. Sinjai, Kab. Sidenreng Rappang, dan Kab. Jeneponto,

18. Gorontalo: Kab. Gorontalo dan Kab. Boalemo,

19. Malut: Kab. Halmahera Utara dan Kab. Halmahera Selatan,

20. Papua: Kab. Marauke dan Kab. Jayapura, serta

21. Irjabar: Kab. Manokwari.

==========================

Kemana RIAU? atau lebih khusus lagi INDRAGIRI HULU? apa terkait dengan kalimat yang dibuat tebal di atas?

============================

ini berita baik lagi

==================

Jangka Waktu dan Pendanaan Program PPAUD

Program berlangsung dari dari tahun 2007 hingga 2013. Anggaran yang diperlukan seluruhnya berjumlah U$ 127,74 juta terdiri dari dukungan pemerintah Pusat dan Daerah (U$ 34,94 juta), dana hibah Kerajaan Belanda (U$ 25,30 juta), serta pinjaman lunak dari Bank Dunia (U$ 67,50 juta).

Keterangan Lebih Lanjut

Hubungi kantor Dinas Pendidikan Propinsi dan Kabupaten yang wilayahnya termasuk dalam daftar di atas. Dapat pula menghubungi: DIREKTORAT PENDIDIKAN ANAK USIA DINIJl. Jenderal Sudirman Gedung E Lantai 7 Senayan Jakarta 10270, Telepon (021) 5725495, 5725943 Fax: (021) 57900244email: program_ppaud@yahoo.co.id

==========================

Pesan : Jaga amanah, Jangan dikorupsi!
yang kebagian tugas “AYO BERBUAT! KITA HEBAT…

SUMBER : http://ppaud.wordpress.com/

Program Pembantuan Beasiswa tahun 2008 untuk PTK PNF

PROGRAM KEGIATAN

A. Sasaran

Sasaran Program Pembantuan Beasiswa tahun 2008 adalah pendidik dan tenaga

kependidikan pendidikan nonformal (PTK-PNF) sebanyak 80 (delapan puluh) orang

PTK-PNF Pusat dan Daerah dengan rincian 50 (lima puluh) orang PTK-PNF yang

sedang mengikuti perkuliahan Strata Satu (S1) dan 30 (tiga puluh) orang PTK-PNF

yang sedang menempuh Strata Dua (S2) atas biaya sendiri.

B. Dana Pemantuan Beasiswa

Pada tahun 2008 dana pembantuan beasiswa yang dialokasikan adalah sebesar

Rp.5.000.000,- untuk jenjang Strata Satu (S1) dan Rp. 7.500.000,- untuk jenjang

Strata Dua (S2).

C. Penggunaan Dana Pembantuan Beasiswa

Dana pembantuan beasiswa diperuntukkan membantu pembiayaan penelitian, SPP,

pembelian buku, dan keperluan lainnya terkait dengan perkuliahan.

D. Seleksi

Penetapan penerima pembantuan beasiswa dilakukan melalui seleksi yang dilakukan

oleh Direktorat Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Nonformal

(Direktorat PTK-PNF) Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga

Kependidikan (Direktorat Jenderal PMPTK). Seleksi ini bersifat administratif yang

bertujuan untuk menilai dan menetapkan penerima bantuan beasiswa. Peserta yang

dinyatakan lulus seleksi tersebut ditetapkan melalui Surat Keputusan Direktur

Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan tentang Penetapan

Penerima Pembantuan Beasiswa Tahun 2008.

5

E. Mekanisme dan Jadwal Penyelenggaraan

Mekanisme dan jadwal penyelenggaraan Program Pembantuan Beasiswa ditetapkan

sebagai berikut:

1. Sosialisasi Program Pembantuan Beasiswa dilaksanakan mulai bulan Pebruari

s.d Maret 2008.

2. Pendaftaran berkas Program Pembantuan Beasiswa dibuat rangkap dua dan

dikirim ke Direktorat Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Nonformal

Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan,

dengan alamat Komplek Depdiknas, Gedung D Lantai XIII, Jl. Pintu Satu

Senayan, Jakarta, bulan April 2008.

3. Seleksi berkas dilakukan bulan Mei 2008.

4. Penetapan penerima pembantuan beasiswa melalui Surat Keputusan Direktur

Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan tentang

penetapan penerima pembantuan beasiswa bulan Mei 2008.

5. Pengumuman penerima pembantuan beasiswa bulan Mei 2008.

6. Penyusunan akad kerjasama antara Direktorat PTK-PNF dengan penerima

pembantuan beasiswa mulai bulan Mei 2008.

7. Penandatangan akad kerjasama bulan Juni 2008

8. Pencairan dan distribusi dana pembantuan beasiswa ke rekening yang

bersangkutan bulan Juli 2008.

F. KETENTUAN

1. Ketentuan bagi mahasiswa Strata Satu (S1), sebagai berikut:

a. Berusia maksimal 45 tahun;

b. Memiliki Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) minimal 2.50;

c. Telah menjadi pendidik dan tenaga kependidikan pendidikan nonformal

minimal satu tahun baik yang berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) maupun

non PNS;

d. Lulus seleksi oleh Direktorat PTK-PNF.

6

2. Ketentuan bagi mahasiswa Strata Dua (S2), sebagai berikut:

a. Berusia maksimal 50 tahun;

b. Memiliki Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) minimal 2.75;

c. Telah menjadi pendidik dan tenaga kependidikan pendidikan nonformal

minimal dua tahun baik yang berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) maupun

non PNS;

d. Lulus seleksi oleh Direktorat PTK-PNF.

=============

sumber : jugaguru.com, info lengkap klik di



PEMBANTUAN DANA BAGI PENDIDIK PAUD 2008

Kembali berburu berita di http://www.Jugaguru.com, dapat beberapa informasi cukup menarik. Lumayan bermanfaat untuk guru-guru dan pengelola. Berikut cuplikannya -lengkapnya silahkan klik di

http://www.jugaguru.com/vlib/35/tahun/2008/bulan/02/tanggal/19/id/671/:

===========================================

PEDOMAN

PEMBANTUAN BAGI PENDIDIK PAUD

(PENDIDIKAN ANAK USIA DINI)

TAHUN 2008

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

DIREKTORAT JENDERAL PENINGKATAN MUTU

PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN

DIREKTORAT PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN

PENDIDIKAN NONFORMAL

TAHUN 200

C. TUJUAN

1. Tujuan Pedoman

Memberikan acuan bagi penyelenggaraan pemberian dana pembantuan

kepada Pendidik PAUD

2. Tujuan Pemberian Dana pembantuan

a. Memberikan penghargaan bagi Pendidik PAUD

b. Meningkatkan motivasi dan dedikasi kepada Pendidik PAUD dalam

melaksanakan tugas

c. Meningkatkan kinerja Pendidik PAUD dan kinerja lembaga

penyelenggara program PAUD.

d. Peningkatan mutu pelayanan pendidikan dari Pendidik PAUD

D. SASARAN

Pendidik PAUD yang berada di 33 Provinsi sebanyak 40.000 orang dengan

rincian terlampir. Setiap Provinsi diharapkan merekrut Pendidik PAUD pada

satuan TPA, SPS dan Kelompok Bermain secara proporsional sesuai dengan

kondisi daerah masing-masing.

E. HASIL YANG DIHARAPKAN

1. Terealisasinya pemberian dana pembantuan kepada Pendidik PAUD yang

merupakan penghargaan atas pengabdiannya.

2. Termotivasi dan berdedikasinya Pendidik PAUD dalam melaksanakan

tugas.

3. Adanya data penerima dana pembantuan bagi Pendidik PAUD sebanyak

40.000 orang.

F. BIAYA

Biaya yang akan diberikan untuk Pendidik PAUD ini melalui DIPA Direktorat

Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Non-Formal tahun anggaran

2008.

BAB II

BENTUK, JUMLAH DAN KRITERIA

PENERIMA DANA PEMBANTUAN

A. BENTUK

Pemberian penghargaan berupa dana pembantuan bagi Pendidik PAUD pada

tahun anggaran 2008 akan diberikan dalam bentuk bantuan yang dapat

dicairkan / diuangkan langsung oleh Pendidik PAUD melalui rekening bank

yang bersangkutan sesuai dengan nomor rekening bank yang diajukan ke Dit.

PTK-PNF.

A. JUMLAH DANA PEMBANTUAN

Dana pembantuan bagi Pendidik PAUD pada tahun 2008 akan dialokasikan

kepada 40.000 orang Pendidik PAUD yang berada di 33 Provinsi. Masingmasing

Pendidik PAUD akan memperoleh dana pembantuan sebesar @ Rp.

100.000,-. selama 6 (enam) bulan, mulai bulan januari sampai dengan bulan

juni 2008. Jumlah dana pembantuan yang diberikan sebesar Rp. 600.000

(Enam Ratus Ribu Rupiah) per orang.

C. KRITERIA PENERIMA DANA PEMBANTUAN

Ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi oleh Pendidik PAUD calon penerima

dana pembantuan, yaitu :

1. Telah melaksanakan tugas sebagai Pendidik PAUD pada Kelompok

Bermain/Taman Penitipan Anak/Satuan PAUD Sejenis (Taman Pendidikan

Al-Qur’an plus PAUD, Sekolah Minggu, Pos PAUD) minimal 1 tahun secara

terus menerus dan diutamakan yang lebih lama melaksanakan tugas /

mengabdi, yang dibuktikan dengan surat keterangan melaksanakan tugas

dari Lembaga PAUD.

2. Mengisi formulir kelengkapan pencairan dana.

3. Memiliki KTP yang masih berlaku sesuai dengan domisili Pendidik PAUD

bertugas.

4. Memiliki nomor rekening bank atas nama pribadi disesuaikan dengan KTP.

KTSP PAUD INSANI

MODEL

KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN

UNTUK

KELOMPOK BERMAIN ISLAM TERPADU

PLAYGROUP INSANI

Jl. Aski Aris No. 47 Rengat Riau 29311

Telp. 0769 323518 Email: anakyasin_foundation@yahoo.com

Web blog: http://www.hidayat-soeryana.blogspot.com

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PENDIDIKAN NASIONAL

PUSAT KURIKULUM


KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN

KELOMPOK BERMAIN ISLAM TERPADU

PLAYGROUP INSANI

I. PENDAHULUAN

A. Rasional

Pemberlakuan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah menuntut pelaksanaan otonomi daerah dan wawasan demokrasi dalam penyelenggaraan pendidikan. Pengelolaan pendidikan yang semula bersifat sentralistik berubah menjadi desentralistik. Desentralisasi pengelolaan pendidikan dengan diberikannya wewenang kepada sekolah untuk menyusun kurikulumnya mengacu pada Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yaitu pasal 3 tentang fungsi dan tujuan pendidikan nasional dan pasal 35 tentang standar nasional pendidikan. Juga adanya tuntutan globalisasi dalam bidang pendidikan yang memacu agar hasil pendidikan nasional dapat bersaiang dengan hasil pendidikan negara-negara maju.

Desentralisasi pengelolaan pendidikan yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan dan kondisi daerah perlu segera dilaksanakan. Bentuk nyata dari desentralisasi pengelolaan pendidikan ini adalah diberikannya kewenangan kepada sekolah untuk mengambil keputusan berkenaan dengan pengelolaan pendidikan, seperti dalam pengelolaan kurikulum, baik dalam penyusunannya maupun pelaksanaannya di sekolah.

Kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Tujuan tertentu ini meliputi tujuan pendidikan nasional serta kesesuaian dengan kekhasan, kondisi dan potensi daerah, satuan pendidikan dan peserta didik. Oleh sebab itu kurikulum disusun oleh satuan pendidikan untuk memungkinkan penyesuaian program pendidikan dengan kebutuhan dan potensi yang ada di daerah.

Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang beragam mengacu pada standar nasional pendidikan untuk menjamin pencapaian tujuan pendidikan nasional.Standar nasional pendidikan terdiri atas standar isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan dan penilaian pendidikan. Dua dari kedelapan standar nasional pendidikan tersebut, yaitu Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) merupakan acuan utama bagi satuan pendidikan dalam mengembangkan kurikulum.

Pengembangan kurikulum disusun antara lain agar dapat memberi kesempatan peserta didik untuk : (a) belajar untuk beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, (b) belajar untuk memahami dan menghayati, (c) belajar untuk mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif, (d) belajar untuk hidup bersama dan berguna untuk orang lain, dan (e) belajar untuk membangun dan menemukan jati diri melalui proses belajar yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan.

Kewenangan sekolah dalam menyusun kurikulum memungkinkan sekolah menyesuaikan dengan tuntutan kebutuhan siswa, keadaan sekolah, dan kondisi daerah. Dengan demikian, daerah dan atau sekolah memiliki cukup kewenangan untuk merancang dan menentukan hal-hal yang akan diajarkan, pengelolaan pengalaman belajar, cara mengajar, dan menilai keberhasilan belajar mengajar

  1. Dasar Pemikiran, Visi dan Tujuan Sekolah

1. Dasar Pemikiran

Dan hendaklah takut (kepada ALLAH) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraannya)…(QS. An Nisaa’ : 09)

2. Visi

Menjadi lembaga pendidikan prasekolah yang mampu membentuk tunas-tunas muda Islam yang sehat, cerdas, kreatif dan bertaqwa.

3. Tujuan

· Pembentukan Aqidah yang benar (Salimul Aqidah)

· Membentuk perilaku dan akhlak yang mulia

· Membentuk keilmuan dan pengetahuan dasar anak.

· Membentuk visi dan jiwa sosial anak

· Mendidik anak mampu berkomunikasi dengan lancar dan percaya diri

· Membentuk dan mengembangkan jiwa keindahan, kreatifitas dan keterampilan anak

C. Pengertian

1. Kurikulum

Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

2. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan

KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. KTSP terdiri dari tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan, struktur dan muatan kurikulum tingkat satuan pendidikan, kalender pendidikan, dan silabus.

3. Silabus

Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi , kompetensi dasar, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator, penilaian, alokasi waktu, dan sumber/bahan/alat belajar. Silabus merupakan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian. Contoh silabus terdapat pada lampiran

4. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

Perencanaan proses pembelajaran meliputi silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran yang memuat sekurang-kurangnya tujuan pembelajaran, materi ajar, metode pengajaran, sumber belajar, dan penilaian hasil belajar. Contoh rencana pelaksanaan pembelajaran PLAYGROUP INSANI terdapat pada Lampiran

…………BERSAMBUNG

KERANGKA DASAR KURIKULUM PAUD

Bongkar-bongkar isi hardisk, nemu beberapa koleksi:


=================================

KERANGKA DASAR

KURIKULUM PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

Tim Pengembang:

Pusat Kurikulum

Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini

Direktorat Pembinaan TK dan SD

Universitas Negeri Jakarta

DERPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

2007

DAFTAR ISI

Bab I . Pendahuluan

A. Latar Belakang

B. Tujuan

C. Sasaran

D. Ruang Lingkup

Bab II . Landasan Pendidikan Anak Usia Dini

A. Landasan Yuridis

B. Landasan Filosofis

C. Landasan Keilmuan

Bab III . Hakikat Pendidikan Anak Usia Dini

A. Pengertian

B. Tujuan

C. Prinsip-prinsip

Bab IV. Standar Kompetensi Anak Usia Dini

A. Pengertian

B. Standar Kompetensi

Bab V. Pengembangan Kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini

A. Pengertian

B. Prinsip Pengembangan Kurikulum

C. Ruang Lingkup Kurikulum

D. Komponen Kurikulum

E. Pengembangan Kurikulum pada Satuan Pendidikan


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Memasuki milenium ke tiga Indonesia dihadapkan pada tantangan untuk menyiapkan masyarakat menuju era baru, yaitu globalisasi yang menyentuh semua aspek kehidupan. Dalam era global ini seakan dunia tanpa jarak. Komunikasi dan transaksi ekonomi dari tingkat lokal hingga internasional dapat dilakukan sepanjang waktu. Demikian pula nanti ketika perdagangan bebas sudah diberlakukan, tentu persaingan dagang dan tenaga kerja bersifat multi bangsa. Pada saat itu hanya bangsa yang unggullah yang anak mampu bersaing.

Pendidikan merupakan modal dasar untuk menyiapkan insan yang berkualitas. Menurut Undang-undang Sisdiknas Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Menurut UNESCO pendidikan hendaknya dibangun dengan empat pilar, yaitu learning to know, learning to do, learning to be, dan learning to live together.

Pada hakikatnya belajar harus berlangsung sepanjang hayat. Untuk menciptakan generasi yang berkualitas, pendidikan harus dilakukan sejak usia dini dalam hal ini melalui Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), yaitu pendidikan yang ditujukan bagi anak sejak lahir hingga usia 6 tahun. Sejak dipublikasikannya hasil-hasil riset mutakhir di bidang neuroscience dan psikologi maka fenomena pentingnya PAUD merupakan keniscayaan. PAUD menjadi sangat penting mengingat potensi kecerdasan dan dasar-dasar perilaku seseorang terbentuk pada rentang usia ini. Sedemikian pentingnya masa ini sehingga usia dini sering disebut the golden age (usia emas).

Dengan diberlakukannya UU No. 20 Tahun 2003 maka sistem pendidikan di Indonesia terdiri dari pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi yang keseluruhannya merupakan kesatuan yang sistemik. PAUD diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar. PAUD dapat diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal, nonformal, dan/atau informal. PAUD pada jalur pendidikan formal berbentuk Taman Kanak-kanak (TK), Raudatul Athfal (RA), atau bentuk lain yang sederajat. PAUD pada jalur pendidikan nonformal berbentuk Kelompok Bermain (KB), Taman Penitipan Anak (TPA), atau bentuk lain yang sederajat. PAUD pada jalur pendidikan informal berbentuk pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan.

Dalam upaya pembinaan terhadap satuan-satuan PAUD tersebut, diperlukan adanya sebuah kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi anak usia dini yang berlaku secara nasional. Kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi adalah rambu-rambu yang dijadikan acuan dalam penyusunan kurikulum dan silabus (rencana pembelajaran) pada tingkat satuan pendidikan. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan.

B. Tujuan

Tujuan kerangka dasar kurikulum pendidikan anak usia dini adalah kerangka dasar yang dijadikan sebagai acuan bagi lembaga pendidikan anak usia dini dalam mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan.

C. Sasaran

Sasaran kerangka dasar ini adalah lembaga-lembaga penyelenggara PAUD jalur pendidikan formal dan nonformal seperti Taman Kanak-Kanak, Raudatul Athfal, Kelompok Bermain,Taman Penitipan Anak, dan Satuan PAUD yang sejenis.


D. Ruang Lingkup Penulisan

Kerangka dasar ini terdiri dari bab I Pendahuluan, bab II Landasan Pendidikan Anak Usai dini, bab III. Hakikat Pendidikan Anak Usai Dini, bab IV Standar Kompetensi Anak Usia Dini, bab V Struktur Kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini, bab VI Penilaian Kurikulum, dan bab. VII Penutup.

……………….. bersambung!